Teori Terjadinya Tata Surya

Alam semesta merupakan sesuatu yang amat besar tak terhingga, menurut hitungan manusia. Manjusia di bumi hanya bisa meyakininya dengan segenap penafsiran melalui hitungan dan perasaan saja. Diantara alam semesta itu terdapat Galaksi-galaksi yang besar. Galaksi itu merupakan sekumpulan bintang-bintang di jagad raya yang bisa berupa cakram yang tengahnya menebal ataupun berbentuk pipih dan juga bisa berbentuk sebuah bola. Jumlahnya pun bisa mencapai ribuan bahkan ratusan ribu bintang. Kumpulan bintang itu dari yang kecil-kecil sampai bintang raksasa, dimana pusat galaksi itu merupakan kumpulan bintang-bintang raksasa yang besarnya berurutan ke bintang yang lebih kecil seiring makin jauh dari pusat galaksi. Contoh Galaksi yang kita diami adalah galaksi berbentuk cakram dimana matahari ada di tengah-tengah antara pusat dan tepi, matahari kita termasuk golongan berukuran sedang. Galaksi kita sering dinamakan galaksi Bima sakti atau milky way, disebut demikian karena berbentuk kabut seperti susu. Galaksi itu berputar mengikuti pusatnya di tengah-tengah cakram dalam waktu yang sangat lama, sehingga di tengah-tengahnya bergerombol. Lihat gambar dibawah ini

Bila tadi kita bahas mengenai galaksi, maka sekarang kita lihat bahwa galaksi mempunyai bagian yang kecil yaitu sebuah bintang. Bintang adalah sebuah material raksasa yang mempunyai cahaya sendiri. Cahaya itu artinya keluar dari bintang sendiri, karena unsur bintang terdiri dari gas yang sangat panas dan besar sehingga volumenya mengembang. Karena panasnya itu maka warna bintang bisa berbeda-beda, makin panas bintang itu makin biru warnanya. Tingkatannya adalah merah, kuning, putih dan kebiru-biruan.Contoh bintang besar Antares yang berwarna merah, matahari kita berwarna kekuning-kuningan, sedangkan bintang yang paling panas ialah bintang Sirius pada rasi Canis Mayor dan berwarna kebiru-biruan..

Bintang bercahaya karena mengandung proses yang sangat dahsyat yaitu termonuklir. Perubahan secara fisika dari unsur Hidrogen menjadi Helium dalam suatu kapasitas yang sangat besar adanya. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya panas di dalam matahari, sehingga matahari materialnya berubah menjadi gas yang sangat mengembang dan ukurannya menjadi sangat besar. Akibat dari panas yang sangat tinggi mencapai 6000 0 Celcius di permukaannya dan pusatnya mencapai 35.000.000 0 Celcius, maka matahari bisa memancarkan sinarnya ke seluruh alam semesta, terutama ke sistem tata suryanya sendiri termasuk ke lingkungan planet bumi dan planet-planet serta satelit-satelit sekitarnya. Matahari merupakan sebuah dapur raksasa bagi sistem tata surya dilingkungannya yang terdiri atas planet-planet. Cahaya matahari bisa mencapai bumi yang jaraknya 149,6 juta kilometer dalam waktu yang singkat. Karena 1 detik cahaya mempunyai kecepatan kurang lebih 300.000 km.

Ada beberapa teori tentang terjadinya tata surya yang bisa kita kenal diantaranya teori Nebulae yang dikemukakan oleh Imanuel Kant dan Laplace. Beliau adalah seorang ahli filsafat jerman yang hidup pada tahun 1749 – 1827. Menurutnya bahwa di jagat raya terdapat banyak sekali kabut-kabut raksasa yang kemudian secara perlahan-lahan berputar membentuk gumpalan-gumpalan kabut-kabut raksasa. Gumpalan-gumpalan itu kemudian lama ke lamaan menjadi gumpalan gas yang menjadi matahari beserta planet-planetnya.

Pada masa yang bersamaan, seorang ahli fisika Perancis bernama Pierre Simon De Laplace, mengemukakan teori yang hampir sama. Dikatakannya bahwa tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin-pilin, sehingga membentuk gumpalan raksasa seperti bola. Makin cepat pilinannya makin kecil bola itu sehingga menjadi mampat dan melebar di bagian ekuatornya, sehingga terlepaslah sebagian dari gas itu dan menjadi gelang-gelang matahari. Gelang-gelang gas itu lama kelamaan membeku menjadi planet-planet dari matahari kita. Teori ini dinamakan dengan teori kabut atau Nebular hypothesis.

Disamping teori kabut, ada juga teori Planetesimal yang dikemukakan oleh T. Chamberlain (1843-1928) seorang ahli geologi dan F.R. Moulton (1872-1952) seorang ahli astronomi, keduanya ilmuwan dari Amerika Serikat. Teorinya berbunyi pada suatu masa datang ke dekat matahari sebuah bintang yang sangat besar, sehingga tertariklah sebagian matahari ke arah bintang itu. Pada saat menjauh bintang itu terlepaslah sebagian masa matahari itu dan tidak bisa mengejar bintang, sehingga jatuh kembali ke masa matahari dan berhamburanlah sebagian masa matahari keluar, sehingga menjadi planet-planet sampai sekarang.

Teori ini hampir sama dengan teori pasang surut yang dikemukakan oleh Sir James Jeans (1877) dan Harold Jefreys (1891) yang keduanya berasal dari Inggris. Menurut teori ini ke dekat Matahari datanglah sebuah bintang yang besar dimana keduanya terjadi saling tarik menarik, dan dari matahari yang kecil keluarlah sebagian masa gas itu dan mengejar masa bintang besar itu, tapi tidak terkejar karena cepatnya gerakannya, maka berceceranlah masa gas matahari itu dan membeku di angkasa, sehingga menjadi planet-planet dalam tata surya. Akibat ceceran itu garis bidang planet (inklinasi) hampir bersamaan. Planet itu dari yang terdekat yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

2 comments so far

  1. jessica timisela on

    thanks bgt,
    smwx berguna bgt bgi tgas2 gw ..🙂

    • glkdawala on

      you’re welcome


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: