Hypnoteaching vs. Quantum Teaching

Ketika mendapat “undangan” untuk mengikuti pelatihan Hypnoteaching, gambaran yang muncul pertama kali adalah teknik hipnosis diterapkan dalam proses pembelajaran; mempengaruhi alam bawah sadar pelajar agar siap belajar. Namun, semua itu dibantah dan dipatahkan selama pelatihan berlangsung.

Berbagai materi yang disuguhkan dengan gaya yang mengundang penasaran, rasa ingin tahu setiap peserta. Dari beberapa kuesioner yang diberikan, sebersit pikiran muncul, bahwa Hypnoteaching adalah implementasi Quantum teaching. Karena apa yang ditanyakan dan disajikan di awal pertemuan sangat erat kaitannya dengan materi quantum teaching yang pernah penulis baca (namun banyak yang lupa ;-P)

Ketika materi menginjak pada tema pengertian, asas, dan prinsip hypnoteaching, dugaan itu semakin menguat. Asas utama hypnoteaching sama dengan asas utama quantum teaching, yaitu:

Bawalah dunia mereka ke dunia kita,

dan antarkan dunia kita ke dunia mereka

tidak ada satu pun kata yang beda!

Letak perbedaan terdapat pada prinsip keduanya. Itupun hanya sebatas frasa/kalimat, sementara maknanya sama. Perbedaan yang mencolok dari keduanya adalah banyak butir prinsip; Quantum teaching memiliki 5 prinsip, sementara Hypnoteaching 6 prinsip. Berikut penulis sajikan prinsip dari keduanya:

Tabel 1: Prinsip Quantum/Hypno-teaching

Prinsip Quantum Teaching

Prinsip Hypnoteaching

Segalanya Berbicara

1

Apa pun bisa menghipnosis

Segalanya Bertujuan

2

Apa pun harus fokus pada tujuan

Pengalaman sebelum Pemberian Nama

3

Apa pun harus dialami

Akui Setiap Usaha

4

Apa pun harus dihargai

Jika layak dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan

5

Dengan latihan, apapun menjadi sempurna

6

Apa pun harus berkesan

 

Mari kita bahas masing-masing prinsip.

Prinsip pertama Quntum teaching adalah segalanya berbicara. Segalanya berarti setiap benda, gerak, atau sesuatu “berbicara”. Berbicara di sini berarti mengungkapkan pesan, isyarat. Dan pada prinsip pertama Hypnoteaching adalah Apa pun bisa menghipnosis. Kata apa pun juga mengandung makna keseluruhan yang berarti sama dengan segalanya. Menghipnosis berarti memberikan efek hipnosis; memukau dan menarik minat, perhatian pemerhati.

Prinsip kedua Quantum teaching adalah Segalanya Bertujuan. Kata bertujuan sudah jelas berarti memiliki target yang harus dicapai. Sama halnya dengan prinsip kedua Hypnoteaching, Apa pun harus fokus pada tujuan. Keduanya bermakna sama; memiliki target yang harus/akan dicapai.

Prinsip ketiga Quantum teaching adalah Pengalaman sebelum Pemberian Nama. Sementara prinsip ketiga Hypnoteaching, Apapun harus dialami. Makna dari keduanya sama, yaitu pengalaman belajar harus menjadi dasar bagi kesan/ pengetahuan/keterampilan dalam proses pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan pemberian nama/istilah.

Prinsip keempat Quantum Teaching adalah Akui Setiap Usaha. Sementara prinsip keempat Hypnoteaching, Apapun harus dihargai. Makna keduanya juga sama, mengakui setiap usaha berarti sama dengan menghargai setiap usaha yang dilakukan pelajar dalam proses pembelajaran.

Sampai sejauh ini, setiap butir prinsip dari kedua metode sama secara makna. Baru pada poin kelima inilah perbedaan yang mencolok. Prinsip kelima Quantum teaching adalah Jika layak dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Perayaan ini merupakan umpan balik bagi penguatan asosiasi. Sementara prinsip kelima Hypnoteaching, Dengan latihan, apapun menjadi sempurna, mengisyaratkan pentingnya pengulangan kemampuan/pengetahuan yang didapat. Menurut hemat penulis, butir kelima dari Hypnoteaching ini merupakan jabaran dari butir keempat Quantum Teaching.

Pada Hypnoteaching, terdapat satu prinsip lagi, yaitu prinsip keenam yang berbeda dengan Quantum teaching. Prinsip itu adalah Apapun harus berkesan. Kesan positif yang timbul selama pembelajaran akan membangkitkan asosiasi positif pada pelajar sehingga mereka mampu mengembangkan pengetahuan yang diperoleh. Selain itu, kesan positif yang ditimbulkan menimbulkan ikatan (bond) yang kuat, harmonis, antara pendidik dengan pelajar. Jika ditelisik, butir keenam ini dapat dipersamakan dengan butir kelima Quntum Teaching secara maknawi. Hal ini bisa dilakukan karena makna kedua butir tersebut memiliki kesamaan, menguatkan asosiasi yang didapat peserta didik.

Paparan di atas membandingkan kedua sisi dari segi prinsip. Sementara dari segi isi, menurut hemat penulis, baik Quantum Teaching maupun Hypnoteaching, memerlukan kajian tersendiri yang tidak mungkin dibahas di sini.

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN TASAWUF: KASUS KULTUR PERSIA

Karena pengaruh literatur sufi beberapa abad terakhir, khususnya puisi cinta pada abad keenam sampai kedelapan Hijri (abad ke-13 sampai ke-15 Masehi), pada kultur Persia secara umum, maka biasanya tasawuf dan filsafat dipandang selalu berlawanan satu sama lainnya atau bahkan bertentangan. Ada juga anggapan bahwa pencarian jalan tasawuf mengharuskan pencelaan filsafat, atau bahwa ekstase dalam cinta ilahiah menuntut pencampakkan intelek dan penolakan terhadap ketajaman intelektual. Namun demikian, pengamatan yang cermat pada berbagai madzhab tasawuf dan cabang-cabang filsafat secara jelas membuktikan kenyataan pernah adanya – tidak hanya satu bahkan sejumlah – bentuk hubungan yang lain antara tasawuf dan filsafat,. Hubungan ini tidak hanya berupa timbal balik dan saling mempengaruhi, tetapi bahkan asimilasi (perpaduan), dan hubungan ini sama sekali tidak terbatas pada kebencian dan permusuhan.

Sebelum membahas persolan ini, lebih dahulu perlu diberikan definisi yang cermat mengenai istilah tashawwuf dan falsafah. Karena kedua istilah ini memiliki banyak arti, dan karena penggunaannya yang luas – atau barangkali justru karena penggunaan luas ini – makna kedua istilah tersebut dan cara penggunaannya tidak selalu jelas. Dalam essay pendek ini, yang dimaksudkan dengan  tashawwuf adalah pencarian jalan ruhani, kebersatuan dengan Kebenaran Mutlak (al-Haqq), dan pengetahuan mistis menurut jalan dan sunnah “kefakiran Muhammad (faqr)” (kepapaan ruhani). Sedangkan falsafah tidak dimaksudkan hanya filsafat Peripatetik yang rasionalistik, tetapi seluruh mazhab intelektual dalam kultur islam yang telah berusaha mencapai pengetahuan mengenai realitas segala sesuatu, dan pada puncaknya pengetahuan mengenai Sebab Awal, melalui daya intelek. Dengan demikian, berlawanan dengan beberapa pemikir awal islam yang me,beakan filsafat (falsafah) dengan kearifan (hikmah), dalam essay ini filsafat mencakup baik filsafat diskursif (bahtsi) maupun filsafat intuitif (dzawqi); dan sebenarnya filsafat juga digunakan secara sinonim dengan teosofi (hakimah), sebagaimana yang biasa digunakan oleh parapemikir Persia yang kahir dan modern seperti Mulla Shadra.

Sejak permulaan kristalisasi ajaran esoteris Nabi Besar islam menjadi tasawuf pada abad kedua Hijri – yang bersamaan dengan kesibukan kaum muslimin mempelajari pelbagai mazhab filsafat kuno – telah muncul perbedaan antara tasawuf dan filsafat. Pada awal pembagian ilmu-ilmu keislaman, keduanya dianggap berbeda, dan tokoh besar sufi seperti Bayazid dan Junaid melihat diri mereka berbeda dari para filosof. Namun demikian, pada saat yang sama, banyak sufi Persia seperti Hakim Tirmidzi dan Abul Hasan Kharraqani adalah juga ahli teosofi (hakim), dan para filosof terkenal seperti al-Farabi dan ibn Sina memiliki kecintaan yang sangat dalam terhadap tasawuf, dan sebagian dari mereka, seperti al-Farabi, dalam kenyataannya mempraktikkan kehidupan sufi.

Seandainya pada periode tersebut ada penentangan terhadap tasawuf, hal ini terjadi hanya terhadap otoritas religius esoteris tertentu yang berlebihan; tetapi, selalu ada ketegangan antara dimensi esoteris dan eksoteris agama. Ketegangan ini sampai tingkat tertentu diperbaiki oleh Abu Hamid Muhammad al-Ghazali dalam dunia Sunni, dan oleh sayyid Haidar Amuli dalam dunia syi’ah. Namun demikian, di kalangan awam penentangan tasawuf terhadap intelek, seperti yang tampak dalam filsafat, tidak tampak begitu jelas. Pendangan bahwa tasawuf dan filsfat secara inheren bertentangan satu sama lain, sesungguhnya disebarkan lebih oleh puisi indah para tokoh besar sufi semacam Sana’i dan ‘Aththar, daripada oleh risalah-risalah teknis sufi atau risalah-risalah teks filsafat.

Perkembangan puisi sufi, dan pada saat yang sama perluasan cabang-cabang ilmu intelektual, umumnya, dan filsafat, khususnya, diikuti pula oleh perkembangan beberapa bentuk hubungan antara tasawuf dan filsafat yang dapat dirangkum dalam lima kategori.

Pertama, bentuk hubungan yang palingjauh dan paling luas diakui antara tasawuf dan filsafat tentu saja adalah pertentangan satu sama lain, sebagaimana tampak dalam karya-karya al-Ghazali bersaudara, Abu Hamid dan Ahmad, dan penyair sufi besar seperti Sana’i, ‘Aththar, dan Rumi. Kelompok sufi ini hanya memperhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali berbicara tentang intelek (‘aql) mereka tidak mengartikan intelek dalam arti mutlaknya, namun mengacu kepada aspek rasional intelek, atau akal (reason). Sebagai contoh. Sufi besar Rumi secara jelas menunjukkan bahwa:

“Akal-lah yang mempermalukan Intelek.”

dalam konteks definisi “intelek” yang terbatas – sebagai akal dan filsafat – inilah syair Sana’i yang mencela “intelek” ini harus dibaca:

Oh, betapa serius akal dan ketakbergunaannya bicara
Oh, betapa banyak dunia dan sifatnya yang berwarna-warni
Ia akan mengikuti akal yang berada dalam kedudukan Jibril al-Amin
(Tetapi) itu tidak memesonakan, bahkan ketimbang pipit yang muncul
Jibril berserta segenap kemuliaannya.

Jika tidak, bagaimana kita dapat mengecilkan intelek, bila Jibril al-Amin itu sendiri adalah Intelek yang membawa wahyu?

‘Aththar juga memahami “filsafat” sebagai hanya filsafat peripatetik yang rasionalistik, dan menekankan bahwa hal itu tidak boleh dikelirukan dengan misteri ilahiah dan pengetahuan ilahiah, yang merupakan usaha puncak penyucian jiwa di bawah bimbingan spiritual para guru sufi. Maka, dalam Asrar-Namah (Kitab Rahasia Ilahi)-nya, ‘Aththar menulis:

Semoga Allah tidak merahmatinya dengan ampunan
Dia berkata demikian sebagai makna filsafat
(Yakni) yang berasal dari tempat lain seperti misteri,
Tidaklah filsafat berkata seperti itu …

Jika engkau seperti debu dalam jalan Muhammad
Dari kesucianmu kedua dunia serupa debu bagimu;
Jika tidak, butalah wahai para filosof
Dan terpisahlah dari Intelek dan kecerdasan intelek

Karena intelek filosof telah dijangkiti penyakit akal,
Maka ia telah tercela dari agama Mustafa
Jauh melampaui intelek kita adalah Singgasana Ilahiah
Tetapi filosof hanya memiliki sebuah mata

Tentu saja “intelek” dalam bait-bait ini tidak sma dengan intelek yang dalam sebuah hadits nabi disebut “ciptaan pertama Allah”; demikian juga filsafat tidak sama dengan teosofi (hikmah) dalam makna Quraninya. Sebaliknya, para pengikut tasawuf jenis ini berusaha menegaskan perbedaan mendasar antara filsafat Yunani dan filsafat kenabian, sementara para ahli teosofi lain seperti Mir Findiriski dan Mir Damad – walaupun mereka menempatkan filsafat kenabian atau filsafat Yamani pada peringkat lebih tinggi ketimbang filsafat Yunani – tidak menganggap keduanya saling bertentangan.

Pelecehan filsafat dan “intelek”, sebagaimana tampak dalam karya Sana’i dan ‘Aththar, tampak pula dalam Matsnawi Rumi, sementara karya ini sendiri pun merupakan lautan teosofi dan makrifat, dan tidak mungkin memahaminya tanpa mengetahui ilmu intelektual atau bahkan filsafat peripatetik yang umum.

Tidak hanya dalam buku pertama Matsnawi, Rumi menganggap kaki para filosof-rasionalistik sebagai kaki kayu, tatapi juga adalam buku keduanya ia menunjukkan:

Tidaklah bergegas Venus memainkan seruling bagi filosof
Melainkan menjauhkannya dari Kuasa Tuhan
Filosof yang menolak (cerita) Hannana,
Terasing dari penglihatan para wali

Dan juga dalam buku kelimanya, seraya menyerang Imam Fakhruddin al-Razi – yang justru dengan tegas menentang filsafat Peripatetik[1] – sebagai filosof Rumi berkata:

Seandainya intelek mampu melihat jalan (yang benar) dalam persoalan ini
Fakhr-i Razi tentulah akhirnya berada dalam rahasia agama
Tetapi, karena ia adalah (contoh dari perkataan) siapa saja yang tidak mencicipi tidak mengetahui
Intelegensia dan khayalannya (hanya) menambah kebingungannya

Usaha Rumi bertujuan membebaskan manusia dari segala aspek bentuk keterbatasan spiritual dan intelektual, dan dengan demikian serangannya terhadap para filosof Peripatetik sesunguhnya dilakukan dalam konteks usaha pembebasan tersebut, yang merupakan perhatian utamanya. Namun demikian, ia tidak pernah mengingkari filsafat atau logika dari kedudukannya. Lagi pula, Matsnawi itu sendiri adalah sebuah  masterpiece filsafat. Namun, serangannya terhadap “intelek” dan filsafat dipahami banyak orang  sebagai tasawuf menentang intelek dan logika. Sementara itu, literatur sufi mencapai puncak kesempurnaannya pada ‘Aththar dan Rumi sedemikian hingga kritik terhadap filsafat menjadi hal yang lazim di antara para penyair pada umumnya, dan dianggap sebagai kebiasaan (tradisi) keagamaan. Demikian kuatnya anggapan tersebut, sehingga hal ini bahkan tampak dalam puisi Khaqani, seorang yang tidak cukup dekat dengan dunia tasawuf[2]. Para penyar abad berikutnya, seperti Hafiz dan bahkan Mahmud Syabistari, juga mengikuti tradisi ini; dan sufi semacam Najmuddin Razi – dalam buku terkenalnya Intelek dan Cinta (‘Aql wa ‘Isyq), yang merupakan masterpiece prosa Persia mengenai cinta sufi – membatas “intelek” pada akal dan menganggap para filosof sebagai menyimpang dan tersesat.

Tak diragukan lagi, penekanan pada hubungan tasawuf dan filsafat seperti ini semasa periode Seljuq dan Ilkhanid – ditambah dengan serangan orang-orang ‘Asy’ari dan banyak faqih terhadap filsafat dan ilmu-ilmu intelektual – mempunyai pengaruh yang cukup besar pada kemunduran ilmu-ilmu ini. Tetapi, dengan melihat munculnya figur-figur seperti Quthbuddin Syirazi dan Khawja Nasiruddin Thusi, ilmu-ilmu intelektual tidak hilang seluruhnya. Lebih-lebih, beberapa aspek lain dari tasawuf itu sendiri memainkan peranan penting dalam kebangkitan kembali mazhab filsafat yang belakangan. Dalam kenyataannya, bila hubungan yang saling berlawanan antara tasawuf, filsafat, “dan intelek”, sebagaimana secara jelas tampak dalam syair-syair sufi dari berbagai mazhab tersebut di atas, merupakan satu-satunya hubungan yang ada, bagaimana mungkin sebagian besar matematikawan dan filosof – yang mengandalkan logika atau olmu-ilmu intelektual – condong kepada tasawuf sejak muda? Alasan bagi kemungkinan seperti itu akan menjadi jelas setelah dilakukan pengamatan yang cermat mengenai hubungan antara tasawuf, di satu pihak, dan filsafat berserta ilmu-ilmu intelektual lain yang termasuk dalam hubungan ini, di pihak lain.

Jenis hubungan kedua antara tasawuf dan filsafat tampak dalam munculnya bentuk khusus tasawuf yang terjalin erat dengan filsafat. Meskipun bentuk tasawuf ini tidak menerima filsafat Peripatetik dan mazhab-mazhab filsafat lain yang seperti itu, namun ia sendiri bercampur dengan apa yang tak dapat lain mesti disebut sebagai filsafat atau teosofi (hikmah) dalam bentuknya yang paling luas. Di samping membahasa secara luas jalan spiritual, ritus-ritus spiritual, kebajikan spiritual, dan cinta ilahiah, tasawuf ini juga menguraikan pengetahuan yang dalam mengenai alam semesta dan mengakui bahwa tujuan utama tasawuf adalah untuk memperoleh pengetahuan makrifat. Para pendiri tasawuf jenis ini tidak dikenal sebagai filosof dalam arti yang biasa digunakan oleh para ahli biografi dan sejarawan. Walaupun demikian, dalam mazhab tasawuf ini, intelek – sebagai alat untuk mencapai Realitas Mutlak dan Realitas tentang Yang Mutlak – memperoleh kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, dalam tasawuf berkembang satu jenis teosofi (‘ilm ilahi) yang tidak hanya datang untuk menggantikan filsafat di dunia Arab, tapi di Persia ia juga amat mempengaruhi – jika bukan menggantikan – filsafat dan kemudian secara amat efektif menggabungkan filsafat dan tasawuf; dan bahkan mengganti nama tasawuf menjadi ‘irfan (gnosis, makrifat) pada periode Safawi.

Biasanya, syaikh al-Akbar Muhyiddin ibn ‘Arabi – sudfi masyhur dari Andalusia, yang menghabiskan bagian akhir hidupnya di Damaskus – diakui sebagai pendiri mazhab intelektual dalam tasawuf. Tetapi, sebelum syaikh al-akbar (gelar ibn ‘Arabi), hubungan antara tasawuf dan ‘irfan – yang terwujud dalam diri sufi besar Persia ‘Ain al-Qudhat al-Hamadani, khususnya dalam bukunya Tamhidat (Persiapan Spiritual) dan Dzubdat al-Haqiq (Kebenaran Paling Berharga). Bahkan dalam beberapa karya terakhir Abu Hamid al-Ghazali, seperti Misykat al-Anwar (Miskat Cahaya-cahaya), hal yang sama juga tampak. Tentu saja samudera tak terbatas dari makrifat jenis ini paling baik terefleksikan dalam karya-karya ibn ‘Arabi.

Hal penting dari perspektif kultur Persia adalah bahwa walaupun syaikh al-akbar berasal dari Andalusia, hampir seratus dua puluh dari seratus lima puluh komentar terhadap karya besarnya Fushush al-Hikam (Mutiara Hikmah) ditulis oleh orang-orang Persia. Dan setelah Rumi, tidak ada lagi sufi yang mempunyai pengaruh yang sama pada literatur sufi Persia. Para murid dan komentarornya, seperti Sadruddin al-Qunawi – yang selain buku-buku berbahasa Arabnya juga telah menulis karya-karya dalam bahasa Persia – tidak hanya memperluas dan mengelaborasi tasawuf, yang berdasarkan makrifat dan dibangun di atas pengetahuan intelek ilahiah, namun penyair terkenal seperti Fakhruddin ‘Iraqi, Syaikh Mamhud Syabistari, Syah Ni’mat Allah Wali, dan akhirnya Abdurrahman Jami’ – yang menjadi komentaror terkemuka ibn ‘Arabi di antara para penyair Persia terkenal lainnya – pada kenyataannya adalah para penggubah syair yang juga diilhami oleh gema mistis ibn ‘Arabi. Di antara para penulis prosa, pengaruhnya juga tampak. Sebagai contoh, dalam karya Sa’duddin Hamuyiah; ibn Abi Jumhur Ahsa’i, dan ibn Turkah Isfahani, pengaruh ibn ‘Arabi sangat jelas. Tentu saja dalam beberapa hal, seperti pada Jami’, penentangan terhadap filsafat masih tetap tampak, tapi penentangan ini sebenarnya muncul dalam kaitannya dengan istilah “filsafat” dan “rasionalisme”, sementara intelek sebagai sumber penetahuan ilahiah dipertahankan secara kuat dalam mazhab ibn ‘Arabi. Lagi pula, karena Jami’ adalah penyair terkenal, kebiasaan lama puisi, kiasan, alegori – seperti pelecehan “intelek” dan pengagungan cinta – masih dapat ditemukan dalam batas tertentu dalam karya-karyanya. Tetapi, hubungan tasawuf dan filsafat ini berbeda dari apa yang diamati dalam tasawuf yang didominasi cinta, seperti pada ‘Aththar dan lainnya. Apa pun yang terjadi, para pengikut mazhab tasawuf ibn ‘Arabi di Perisa dianggap sebagai mewakili tipe hubungan antara tasawuf dan filsafat yang khas, meskipun ada beberapa kesamaan dalam perspektif mereka dengan para sufi lain yang telah kita rujuk.

Jenis hubungan ketiga antara tasawuf dan filsafat ditemukan dalam karya-karya para sufi yang sekaligus juga filosof, yang telah berusaha untuk merujuk tasawuf dan filsafat. Perbedaan antara kelompok ini dengan yang terdahulu adalah sementara para pendiri makrifat spekulatif (‘irfan nazhari) adalah pendukung teosofi yang mencakup filsafat dalam artinya yang khas budaya islam; yakni, mereka adalah pendukung salah satu mazhab filsafat yang dikenal baik, seperti Peripatetik, Isma’ili, dan sebagainya, dan mereka biasanya adalah para guru terkemuka mazhab-mazhab itu. Sejauh menyangkut kelompok ini (yakni mereka yang menjadi bagian dari dunia tasawuf atau dimensi esoterik islam dan pada yang sama adalah juga para filosof dan teosof), kita masih harus membedakan antara mereka yang secara individual berusaha merujukkan tasawuf dan filsafat, di satu pihak, dan para teosof ‘Isyraqi serta teosof Isma’ili pada era Fathimah, di pihak lain. Di antara anggota kelompok yang pertama, kita dapat merujuk kepada Afdhaluddin Kasyani, Quthbuddin Syirazi, Ibn Turkah al-Isfahani, dan Mir Abul-Qasim Findiriski. Orang-orang ini seluruhnya adalah sufi yang berjalan pada jalan spiritual dan telah mencapai maqam spiritual, dan beberapa di antara mereka terdapat para wali, tetapi pada saat yang sama secara mendalam memahami filsafat dan – cukup mengherankan – beberapa di antara mereka lebih tertarik pada filsafat Peripatetik dan “rasionalistik” daripada filsafat intutif (dzawqi), sebagaimana dapat diamati dalam kasus Mir Findiriski yang amat mendalami al-Syifa-nya ibn Sina.

Di antara anggota kelompok ini, Afdhaluddin Kasyani memegang kedudukan yang unik. Ia tidak hanya salah satu sufi terbesar yang hingga hari ini mouseleumnya di Maraq Kasyan menjadi tempat ziarah, baik orang-orang awam maupun orang-orang terpelajar, tetapi ia juga dianggap sebagai salah satu filosof Persia terbesar yang sumbangannya bagi pengembangan bahasa filsafat Persia tak tertandingi. Karya-karya filsafatnya – dalam logika, teologi, ataupun dalam ilmu-ilmu alam – ditulis dalam bahasa Persia yang jelas dan fasih, dan merupakan masterpiece dalam bahasa ini. Ia tidak hanya menunjukkan dengan jelas wawasan tasawuf dalam syair-syairnya – khususnya dalam kuartrainnya (syair empat baris); namun dalam karya logika dan filsafatnya yang paling ketat  sekalipun, ia tidak melihat adanya pertentangan antara tasawuf dan filsafat, dan menganggap kategori-kategori logika sebagai pemberian bawaan intelek sehingga dapat mencapai kepastiaan – bahkan dalam sains dan logika – melalui rahmat Intelek Ilahiah. Barangkali tidak ada pemikir besar Persia lain yang dapat merujukkan spiritualitas batin tasawuf dan filsafat hingga ke tingkat itu, dalam bentunya yang bahkan paling rasional dan logis. Baginya, intelek bukanlah penentang, atau bahkan hijab dalam jalan spiritual cinta, melainkan alat untuk melacak dan membimbing ke rumah Yang Tercinta. Kaki kaum rasionalis adalah kaki kayu hanya jika kategori logika dipisahkan dari tempatnya yang layak dalam Alam Semesta Suci dan melupakan prinsip inteleksi – yang memungkinkan manusia melintas mulai dari yang universal terbang bahkan lebih jauh menuju Hadirat Ilahiah yang tek terbatas. Meskipun fakta menunjukkan bahwa karya-karya afdhaluddin, baik prosa maupun puisi, sangat terkenal, namun belum dilakukan analisis yang memadai mengenai pentingnya gaya pemikirannya yang khas sehubungan dengan usaha merujukkan tasawuf dan filsafat.

Figur besar lain seperti Quthbuddin al-Syirazi, yang dalam masa remajanya bergabung dengan para sufi dan juga menulis karya besar dalam filsafat peripatetik dalam bahasa Persia, Durrat al-Tajj; lalu bin Turkah Isfahani, yang Tamhid al-Qawaid-nya merupakan masterpiece filsafat sekaligus tasawuf; dan Mir Abul Qasim Findiriski, yang menjadi komentaror karya metafisika Hindu penting, Yoga Vaisithsa, adalah juga sufi dan ahli makrifat yaang kepadanya banyak mukjizat dinisbatkan. Mereka semua sesungguhnya adalah para pengikut mazhab afdhaluddin Kasyani, sejauh menyangkut upaya pemantapan hubungan antara tasawuf dan filsafat.

Sejauh menyangkut para teosof Isma’ili, sebagaimana tampak dari Jami’ al-Hikmatayn-nya Nashir-i Khusraw, karena mereka Isma’ili mereka menganggap diri mereka sebagai bagian dari dimensi esoterik islam dalam bentuk Syi’ahnya, meskipun mereka adalah juga filosof . Judul Jami’ al-Hikmatayn (Kumpulan dua Teosofi) sendiri menunjukkan usaha Nashir-i Khusraw dalam memadukan ajaran esoteris islam dan filsafat. Tentu saja, dalam hal ini tasawuf tidak dimaksudkan dalam arti khususnya, melainkan dalam arti aspek esoteris islam secara umum, di mana tasawuf merupakan perwujudan terpentingnya, sementara esoterisme tersebut juga terwakili secara baik dalam Syi’ah. Dalam pengertian apa pun, pendekatan Nashir-i Khusraw – sebagaimana para figur cemerlang mazhab ini seperti Abu Hathim al-Razi dan Hamiduddin al-Kirmani – merupakan usaha untuk mendamaikan dimensi esoteris islam dan filsafat. Dengan demikian, kita perlu merujuk kepada mereka dalam diskusi ini, meksipun dalam kenyataannya para teosof ini secara resmi bukanlah berasal dari kalangan sufi.

Akhirnya, di antara tokoh yang karya-karyanya patut dipertimbangkan dalam membicarakan jenis ketiga hubungan antara tasawuf dan filsafat ini, haruslah kita sebutkan Guru Iluminasi (Syaikh al-‘Isyraqi), Syihabuddin al-Suhrawardi dan para teosof ‘Isyraqi lainnya. Pada  mulanya, al-Suhrawardi, seperti juga  Afdhaluddin, melakukan perjalan spiritual setelah lebih dulu ditahbiskan dalam kehidupan tasawuf, dan kemudian melalui studinya dan pencariannya dalam filsafat. Dengan demikian, kita harus menganggapnya sebagai seorang sufi yang menciptakan ikatan antara tasawuf dan filsafat. Tetapi, dalam kasusnya, usaha ini mengarah pada pembentukan mazhab baru dalam filsafat islam yang menjadi terkenal sebagai Mazhab Iluminasi, yang esensi dan prinsipnya adalah merujukkan teosofi intuitif (dzawqi) dan filsafat diskursif (bahtsi). Bagi Syaikh al-‘Israqi ini, seperti juga Afdhaluddin, intelek ini bukanlah kaki kayu akal atau akal yang suka mengganggu (‘aql-i fudhuli). Namun, intelek tersebut tak lain adalah intelek tercerahkan yang menjadi bercahaya karena kedekatannya pada sumber segala cahaya, dan dengan demikian telah menjadi sumber yang tercerahkan bagi seluruh tingkat eksistensi yang lebih rendah. Intelek bagi al-Suhrawardi adalah Intelek yang Berpendar Cahaya Merah (‘aql-i surkh) yang dirujuknya dalam risalah terkenalnya dan dianggap sebagai tingkatan perantara antara dunia cahaya murni dan kegelapan yang kelam. Intelek ini sendiri bersifat mencerahkan pikiran manusia dan bakan eksistensinya, dan dengan demikian mengangkatnya ke puncak kenikmatan spiritual dan ekstase. Intelek inilah yang menari bersama musik Venus dan mencapai Sumber Wujud, yakni Cahaya segala cahaya itu sendiri. Pada kenyataannya, dalam Mazhab Ilmuniasi – dengan menggabungkan mazhab filsafat Persia kuno, Yunani, dan Iskandariah – tasawuf menciptakan suatu filsafat yang menjadi salah satu mazhab intelektual terpenting di Timur dan dalam pada itu menjadi satu vontoh terkenal tentang kesatuan tasawuf dan filsafat. Di mana pun teosofi ini muncul, apakah dalam tulisan Syamsuddin al-Syahradzuri adan Quthbuddin al-Syirazi – komentator pertama teosofi ‘Israqi (Hikmah al-‘Isyraq) – atau dalam tulisan dan ucapan Jalaluddin al-Dawami dan keluarga Dasytaki, atau dalam aspek ‘Isyraqi buku-buku Mir Damad, khususnya puisinya, terlihat adanya hubungan yang erat antara tasawuf dan filsafat, serta antara kesatuan dengan Tuhan dan pencapaian spiritual, ini sangatlah penting baik bagi nasib filsafat maupun tasawuf dalam sejarah Persia.

Tiga jenis hubungan antara tasawuf dan filsafat yang telah kita bicarakan – yakni, pertentangan terhadap filsafat oleh para penyair Persia yang berorientasi sufi, penciptaan suatu jenis filsafat-makrifati Persia oleh para sufi sendiri melalui mazhab ibn ‘Arabi, dan akhirnya adanya perhatian terhadap filsafat oleh tiga macam kelompok pemikir Persia yang berbicara dari dalam dimensi esoteris dan spiritual islam – sebegitu jauh semuanya memiliki satu titik singgung yang sama, yaitu bahwa semua orang ini telah keluar dari tasawuf atau dimensi esoteris islam, dan kemudian mendekati filsafat. Tetapi, untuk memahami hubungan antara tasawuf dan filsafat, kita juga harus merujuk kepada dua jenis hubungan lain yang mencakup para pemikir yang semula teosof dan filosof tetapi telah memiliki keterikatan batin kepada tasawuf dan telah berusaha, dalam banyak cara, untuk membina hubungan tertentu antara tasawuf dan filsafat.

Kelompok pertam kategori ini, atau jenis keempat dalam kategorisasi umum kita mengenai hubungan tasawuf dengan filsafat, mencakup para filosof yang mempelajari, atau dalam beberapa hal mempraktikkan tasawuf. Yang pertama dari kelompok ini adalah al-Farabi, yang mempraktikkan tasawuf dan bahkan telah menggubah musik yang dimainkan dalam pertemuan sama’ para sufi sehingga hari itu, Mutiara Hikmah (Fushus al-Hikmah) yang dinisbahkan kepadanya sangatlah penting. Karena, pada dasarnya, inilah buku mengenai filsafat maupun makrifat dan hingga kini diajarkan di Persia bersama komentar-komentar makrifati. Kemudian, kita harus menyebutkan ibn Sina yang, meskipun barangkali tak mempraktikkan tasawuf menjadi pembela tasawuf yang paling kukuh. “Fi Maqamat al-‘Arifin”-nya (Tentang tingkatan Spiritiual para ‘Arif) dalam buku Isyarat merupakan salah satu pembelaan tasawuf paling kuat yang pernah dilakukan filosof, sementara seluruh Hikmah al-Mayriqiyyah (Filsafat Timur) penuh dengan pemikiran-pemikiran dan kiasan-kiasan (alegori) yang diturunkan dari tasawuf. Perhatian yang komprehensif terhadap tasawuf tampak juga lama karya-karya sang pembangkit filsafat Peripatetik, Syaikh Khawja Nasiruddin al-Thusi. Barangkali akan mencengankan sebagian orang yang membaca risalah al-Thusi, Awshaf al-Asyraf (Karakteristik Kemuliaan) yang menjadi masterpiece literatur sufi yang bercorak etika, jika mereka mempelajari karya-karya matematika dan filsafatnya yang tak terhitung. Dalam pemikiran-pemikiran al-THusi, terdapat hubungan yang luar biasa antara metode saintifik yang paling cermat dan pemikiran logis dengan tasawuf. Hal ini merupakan contoh paling nyata dari perhatian yang diberikan kepada prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran tasawuf oleh para pemikir Persia terbesar, bahkan kalaupun mereka adalah matematikawan dan ahli astronomi.


[1]Karena Imam Fakhr-i Razi, meskipun mengkritik Isyarat-nya Ibn Sina, telah menguasai seluruh ilmu intelektual, termasuk filsafat Peripatetik, banyak di antara penentang menganggapnya sebagai filosof.

[2]Puisi-puisi terkenal Khaqani tersebut adalah petunjuk adanya kesesuaiannya dengan pendangan yang biasa dianut oleh kaum terpelajar mengani filsafat pada masanya:

Jangan campurkan filsafat dengan seni bicara;
Kemudian jangan sebut itu polemik.
Lumpur kekacauan ada di jalan,
Wahai, kalian para guru, jangan langkahkan kakimu pada lumpur
Serombngan anak-anak yang baru mulai,
Tak menaruh lembaran kemalangan di tangan.

Rumah suci Ka’bah telah bersih dari Hubal,
Jangan bawa kembali Hubal ke rumah suci.

Kunci mitos Aristoteles,
Jangan kau pasang di pintu yang terbaik dari segalanya.

Citra Plato yang terkikis,
Jangan kau lekatkan pada masyarakat terbaik.
Jangan anggap filosof manusia saleh,
Jangan simpan orang kasim dekat pahlawan Sam.
Jika Afdhal bicara omong kosong,
Jangan sebut ia Afdhal (Utama) tetapi Adhall (yang paling tersesat)

Sejarah Sistem Operasi dari DOS, Windows sampai Linux

Jangan melupakan sejarah …!

Kalimat ini bukan hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga di dunia komputer, khususnya dunia sistem operasi.

Mempelajari sejarah memang menarik, bahkan sekalipun itu hanya sejarah sistem operasi / operating system (OS) suatu komputer. Paling tidak dengan mempelajari sejarah sistem operasi komputer, wawasan kita bertambah luas dan tidak hanya berkutat pada satu sistem operasi saja.

Artikel ini akan menguraikan sejarah sistem operasi dari DOS, Mac, Windows, BSD, sampai Linux.

1980

  • QDOS  : Tim Paterson dari Seattle Computer menulis QDOS yang dibuat dari OS terkenal pada masa itu, CP/M. QDOS (Quick and Dirty Operating System) dipasarkan oleh Seatle Computer dengan nama 86-DOS karena dirancang untuk prosesor Intel 8086.
  • Microsoft : Bill Gates dari Microsoft membeli lisensi QDOS dan menjualnya ke berbagai perusahaan komputer.

1981

  • PC DOS : IBM meluncurkan PC DOS yang dibeli dari Microsoft untuk komputernya yang berbasis prosesor Intel 8086.
  • MS DOS : Microsoft menggunakan nama MS DOS untuk OS ini jika dijual oleh perusahaan diluar IBM.

1983

  • MS DOS 2.0 : Versi 2.0 dari MS DOS diluncurkan pada komputer PC XT.

1984

  • System 1.0 : Apple meluncurkan Macintosh dengan OS yang diturunkan dari BSD UNIX. System 1.0 merupakan sistem operasi pertama yang telah berbasis grafis dan menggunakan mouse.
  • MS DOS 3.0 : Microsoft meluncurkan MS DOS 3.0 untuk PC AT yang menggunakan chip Intel 80286 dan yang mulai mendukung penggunaan hard disk lebih dari 10 MB.
  • MS DOS 3.1 : Microsoft meluncurkan MS DOS 3.1 yang memberikan dukungan untuk jaringan.

1985

  • MS Windows 1.0 : Microsoft memperkenalkan MS Windows, sistem operasi yang telah menyediakan  lingkungan berbasis grafis (GUI) dan kemampuan multitasking. Sayangnya sistem operasi ini sangat buruk performanya dan tidak mampu menyamai kesuksesan Apple.
  • Novell Netware : Novell meluncurkan sistem operasi berbasis jaringan Netware 86 yang dibuat untuk prosesor Intel 8086.

1986

  • MS DOS 3.2 : Microsoft meluncurkan MS DOS 3.2 yang menambahkan dukungan untuk floppy  3.5 inch 720 KB.

1987

  • OS/2 : IBM memperkenalkan OS/2 yang telah berbasis grafis, sebagai calon pengganti IBM PC DOS.
  • MS DOS 3.3 : Microsoft meluncurkan MS DOS 3.3 yang merupakan versi paling populer dari MS DOS.
  • Windows 2.0 : Windows versi 2.0 diperkenalkan.
  • MINIX : Andrew S. Tanenbaum mengembangkan Minix, sistem operasi berbasis Unix yang ditujukan  untuk pendidikan. MINIX nantinya menginspirasi pembuatan Linux.

1988

  • MS DOS 4.0 : Microsoft mengeluarkan MS DOS 4.0 dengan suasana grafis.
  • WWW : Proposal World Wide Web (WWW) oleh Tim Berners Lee.

1989

  • NetWare/386 (juga dikenal sebagai versi 3) diluncurkan oleh Novell untuk prosesor Intel 80386.

1990

  • Perpisahan : Dua perusahaan raksasa berpisah, IBM berjalan dengan OS/2 dan Microsoft berkonsentrasi pada Windows.
  • Windows 3.0 : Microsoft meluncurkan Windows versi 3.0 yang mendapat sambutan cukup baik.
  • MS Office : Microsoft membundel Word, Excel, dan PowerPoint untuk menyingkirkan saingannya seperti Lotus 1 2 3, Wordstar, Word Perfect dan Quattro.
  • DR DOS : Digital Research memperkenalkan DR DOS 5.0.

1991

  • Linux 0.01 : Mahasiswa Helsinki bernama Linus Torvalds mengembangkan OS berbasis Unix dari sistem operasi Minix yang diberi nama Linux.
  • MS DOS 5.0 : Microsoft meluncurkan MS DOS 5.0 dengan penambahan fasilitas full -screen editor,  undelete, unformat dan Qbasic.

1992

  • Windows 3.1 : Microsoft meluncurkan Windows 3.1 dan kemudian Windows for Workgroups 3.11 di tahun berikutnya.
  • 386 BSD : OS berbasis Open Source turunan dari BSD Unix didistribusikan oleh Bill Jolitz setelah meninggalkan Berkeley Software Design, Inc (BSDI). 386 BSD nantinya menjadi induk dari proyek Open Source BSD lainnya, seperti NetBSD, FreeBSD, dan OpenBSD.
  • Distro Linux : Linux didistribusikan dalam format distro yang merupakan gabungan dari OS plus program aplikasi. Distro pertama Linux dikenal sebagai SLS (Softlanding Linux System).

1993

  • Windows NT : Microsoft meluncurkan Windows NT, OS pertama berbasis grafis tanpa DOS  didalamnya yang direncanakan untuk server jaringan.
  • Web Browser : NCSA memperkenalkan rilis pertama Mosaic, browser web untuk Internet.
  • MS DOS 6.0 : Microsoft memperkenalkan MS DOS 6.0 Upgrade, yang mencakup program kompresi  harddisk DoubleSpace.
  • Slackware : Patrick Volkerding mendistribusikan Slackware Linux yang menjadi distro populer pertama di kalangan pengguna Linux.
  • Debian : Ian Murdock dari Free Software Foundation (FSF) membuat OS berbasis Linux dengan nama Debian.
  • MS DOS 6.2 : Microsoft meluncurkan MS DOS 6.2.
  • NetBSD : Proyek baru OS berbasis Open Source yang dikembangkan dari 386BSD dibuat dengan menggunakan nama NetBSD.
  • FreeBSD : Menyusul NetBSD, satu lagi proyek yang juga dikembangkan dari 386BSD dibuat dengan  nama FreeBSD.

1994

  • Netscape : Internet meraih popularitas besar saat Netscape memperkenalkan Navigator sebagai browser Internet.
  • MS DOS 6.22 : Microsoft meluncurkan MS DOS 6.22 dengan program kompresi bernama DriveSpace. Ini merupakan versi terakhir dari MS DOS.
  • FreeDOS : Jim Hall, mahasiswa dari Universitas Wisconsin­River Falls Development mengembangkan FreeDOS. FreeDOS dibuat setelah Microsoft berniat menghentikan dukungannya untuk DOS dan menggantikannya dengan Windows 95.
  • SuSE : OS Linux versi Jerman dikembangkan oleh Software und System Entwicklung GmbH (SuSE) dan dibuat dari distro Linux pertama, SLS.
  • Red Hat : Marc Ewing memulai pembuatan distro Red Hat Linux.

1995

  • Windows 95 : Microsoft meluncurkan Windows 95 dengan lagu Start Me Up dari Rolling Stones dan terjual lebih dari 1 juta salinan dalam waktu 4 hari.
  • PC DOS 7 : IBM memperkenalkan PC DOS 7 yang terintegrasi dengan program populer pengkompres data Stacker dari Stac Electronics. Ini merupakan versi terakhir dari IBM PC DOS.
  • Windows CE : Versi pertama Windows CE diperkenalkan ke publik.
  • PalmOS : Palm menjadi populer dengan PalmOS untuk PDA.
  • OpenBSD : Theo de Raadt pencetus NetBSD mengembangkan OpenBSD.

1996

  • Windows NT 4.0 : Microsoft meluncurkan Windows NT versi 4.0

1997

  • Mac OS : Untuk pertama kalinya Apple memperkenalkan penggunaan nama Mac OS pada Mac OS 7.6.

1998

  • Windows 98  : Web browser Internet Explorer menjadi bagian penting dari Windows 98 dan berhasil  menumbangkan dominasi Netscape Navigator.
  • Server Linux : Linux mendapat dukungan dari banyak perusahaan besar, seperti IBM, Sun Microsystem dan Hewlet Packard. Server berbasis Linux mulai banyak dipergunakan menggantikan  server berbasis Windows NT.
  • Google : Search Engine terbaik hadir di Internet dan diketahui menggunakan Linux sebagai  servernya.
  • Japan Goes Linux : TurboLinux diluncurkan di Jepang dan segera menjadi OS favorit di Asia, khususnya di Jepang, China dan Korea.
  • Mandrake : Gael Duval dari Brazil mengembangkan distro Mandrake yang diturunkan dari Red Hat.

1999

  • Support : Hewlett Packard mengumumkan  layanan 24/7 untuk distro Caldera, Turbo Linux, Red Hat dan SuSE.
  • Corel Linux : Corel pembuat program Corel Draw, yang sebelumnya telah menyediakan Word Perfect versi Linux, ikut membuat OS berbasis Linux dengan nama Corel Linux dan yang  nantinya beralih nama menjadi Xandros.

2000

  • Mac OS/X : Mac OS diganti dengan mesin berbasis BSD Unix dengan kernel yang disebut sebagai Mac OS/X.
  • Windows 2000: Microsoft meluncurkan Windows 2000 sebagai penerus Windows NT.
  • Windows Me : Microsoft meluncurkan Windows Me, versi terakhir dari Windows 95.
  • China Goes Linux : Red Flag Linux diluncurkan dari Republik Rakyat China.
  • Microsoft vs IBM : CEO Microsoft Steve Ballmer menyebut Linux sebagai kanker dalam sebuah  interview dengan Chicago Sun Times. Di lain pihak, CEO IBM Louis Gartsner menyatakan dukungan  pada Linux dengan menginvestasikan $ 1 milyar untuk pengembangan Linux.

2001

  • Windows XP : Microsoft memperkenalkan Windows XP.
  • Lindows: Michael Robertson, pendiri MP3.com, memulai pengembangan Lindows yang diturunkan dari Debian. Nantinya Lindows berganti nama menjadi Linspire karena adanya tuntutan  perubahan nama oleh Microsoft.

2002

  • Open Office : Program perkantoran berbasis Open Source diluncurkan oleh Sun Microsystem.
  • OS Lokal : OS buatan anak negeri berbasis Linux mulai bermunculan, diantaranya Trustix Merdeka,  WinBI, RimbaLinux, Komura.

2003

  • Windows 2003 : Microsoft meluncurkan Windows Server 2003.
  • Fedora : Redhat mengumumkan distro Fedora Core sebagai penggantinya. Nantinya ada beberapa distro lokal yang dibuat berbasiskan Fedora, seperti BlankOn 1.0 dan IGOS Nusantara.
  • Novell : Ximian, perusahaan pengembang software berbasis Linux dibeli oleh Novell, begitu juga halnya dengan SuSE yang diakuisisi oleh Novell.
  • LiveCD : Knoppix merupakan distro pertama Linux yang dikembangkan dengan konsep LiveCD  yang bisa dipergunakan tanpa harus diinstal  terlebih dahulu. Distro lokal yang dibuat dari Knoppix  adalah Linux Sehat dan Waroeng IGOS.

2004

  • Ubuntu : Versi pertama Ubuntu diluncurkan dan didistribusikan ke seluruh dunia. Ada beberapa  versi distro yang dikeluarkan, yaitu Ubuntu (berbasis Gnome), Kubuntu (berbasis KDE), Xubuntu (berbasis XFCE), dan Edubuntu (untuk pendidikan).

2005

  • Mandriva : Mandrake bergabung dengan Conectiva dan berganti nama menjadi Mandriva.

2006

  • Unbreakable Linux : Oracle ikut membuat distro berbasis Linux yang diturunkan dari Red Hat Enterprise.
  • CHIPLux : Distro lokal terus bermunculan di tahun ini, bahkan Majalah CHIP yang lebih banyak memberikan pembahasan tentang Windows juga tidak ketinggalan membuat distro Linux dengan nama CHIPLux, yang diturunkan dari distro lokal PC LINUX dari keluarga PCLinuxOS (varian Mandriva). CHIPLux merupakan distro lokal pertama yang didistribusikan dalam format DVD.

2007

  • Vista : Setelah tertunda untuk beberapa lama, Microsoft akhirnya meluncurkan Windows Vista. Windows Vista memperkenalkan fitur 3D Desktop dengan Aero Glass, SideBar, dan Flip 3D. Sayangnya semua keindahan ini harus dibayar mahal dengan kebutuhan spesifikasi komputer yang sangat tinggi.

2008

3D OS : Tidak seperti halnya Vista yang membutuhkan spesifikasi tinggi, 3D Desktop di Linux muncul dengan spesifikasi komputer yang sangat ringan. Era hadirnya teknologi 3D Desktop di Indonesia ditandai dengan hadirnya sistem operasi 3D OS yang dikembangkan oleh PC LINUX. Ada beberapa versi yang disediakan, yaitu versi 3D OS untuk pengguna umum serta versi distro warnet Linux dan game center Linux.

Sistem operasi

Dari Wikipedia Bahasa Indoensia

Dalam Ilmu komputer, Sistem operasi atau dalam bahasa Inggris: operating systematau OS adalah perangkat lunak sistem yang bertugas untuk melakukan kontrol dan manajemen perangkat keras serta operasi-operasi dasar sistem, termasuk menjalankan software aplikasi seperti program-program pengolah kata dan browser web.

Secara umum, Sistem Operasi adalah software pada lapisan pertama yang ditaruh pada memori komputer pada saat komputer dinyalakan. Sedangkan software-software lainnya dijalankan setelah Sistem Operasi berjalan, dan Sistem Operasi akan melakukan layanan inti umum untuk software-software itu. Layanan inti umum tersebut seperti akses ke disk, manajemen memori, skeduling task, dan antar-muka user. Sehingga masing-masing software tidak perlu lagi melakukan tugas-tugas inti umum tersebut, karena dapat dilayani dan dilakukan oleh Sistem Operasi. Bagian kode yang melakukan tugas-tugas inti dan umum tersebut dinamakan dengan “kernel” suatu Sistem Operasi.

Pendahuluan

Biasanya, istilah Sistem Operasi sering ditujukan kepada semua software yang masuk dalam satu paket dengan sistem komputer sebelum aplikasi-aplikasi software terinstall. Dalam Ilmu komputer, Sistem operasi atau dalam bahasa Inggris: operating system atau OS adalahperangkat lunak sistem yang bertugas untuk melakukan kontrol dan manajemen perangkat keras serta operasi-operasi dasar sistem, termasuk menjalankan software aplikasi seperti program-program pengolah kata dan browser web.

Secara umum, Sistem Operasi adalah software pada lapisan pertama yang ditaruh pada memori komputer pada saat komputer dinyalakan. Sedangkan software-software lainnya dijalankan setelah Sistem Operasi berjalan, dan Sistem Operasi akan melakukan layanan inti umum untuk software-software itu. Layanan inti umum tersebut seperti akses ke disk, manajemen memori, skeduling task, dan antar-muka user. Sehingga masing-masing software tidak perlu lagi melakukan tugas-tugas inti umum tersebut, karena dapat dilayani dan dilakukan oleh Sistem Operasi. Bagian kode yang melakukan tugas-tugas inti dan umum tersebut dinamakan dengan “kernel” suatu Sistem Operasi

Kalau sistem komputer terbagi dalam lapisan-lapisan, maka Sistem Operasi adalah penghubung antara lapisan hardware dan lapisan software. Lebih jauh daripada itu, Sistem Operasi melakukan semua tugas-tugas penting dalam komputer, dan menjamin aplikasi-aplikasi yang berbeda dapat berjalan secara bersamaan dengan lancar. Sistem Operasi menjamin aplikasi software lainnya dapat menggunakan memori, melakukan input dan output terhadap peralatan lain, dan memiliki akses kepada sistem file. Apabila beberapa aplikasi berjalan secara bersamaan, maka Sistem Operasi mengatur skedule yang tepat, sehingga sedapat mungkin semua proses yang berjalan mendapatkan waktu yang cukup untuk menggunakan prosesor (CPU) serta tidak saling mengganggu.


Dalam banyak kasus, Sistem Operasi menyediakan suatu pustaka dari fungsi-fungsi standar, dimana aplikasi lain dapat memanggil fungsi-fungsi itu, sehingga dalam setiap pembuatan program baru, tidak perlu membuat fungsi-fungsi tersebut dari awal.


Sistem Operasi secara umum terdiri dari beberapa bagian:

  1. Mekanisme Boot, yaitu meletakkan kernel ke dalam memory
  2. Kernel, yaitu inti dari sebuah Sistem Operasi
  3. Command Interpreter atau shell, yang bertugas membaca input dari pengguna
  4. Pustaka-pustaka, yaitu yang menyediakan kumpulan fungsi dasar dan standar yang dapat dipanggil oleh aplikasi lain
  5. Driver untuk berinteraksi dengan hardware eksternal, sekaligus untuk mengontrol mereka.


Sebagian Sistem Operasi hanya mengizinkan satu aplikasi saja yang berjalan pada satu waktu, tetapi sebagian besar Sistem Operasi baru mengizinkan beberapa aplikasi berjalan secara simultan pada waktu yang bersamaan. Sistem Operasi seperti itu disebut sebagai Multi-tasking Operating System. Beberapa Sistem Operasi berukuran sangat besar dan kompleks, serta inputnya tergantung kepada input pengguna, sedangkan Sistem Operasi lainnya sangat kecil dan dibuat dengan asumsi bekerja tanpa intervensi manusia sama sekali. Tipe yang pertama sering disebut sebagai Desktop OS, sedangkan tipe kedua adalah Real-Time OS


Sebagai contoh, yang dimaksud sistem operasi itu antara lain adalah Windows, Linux, Free BSD, Solaris, palm, dan sebagainya.

Layanan inti umum

Seiring dengan berkembangnya Sistem Operasi, semakin banyak lagi layanan yang menjadi layanan inti umum. Kini, sebuah OS mungkin perlu menyediakan layanan network dan koneksitas internet, yang dulunya tidak menjadi layanan inti umum. Sistem Operasi juga perlu untuk menjaga kerusakan sistem komputer dari gangguan program perusak yang berasal dari komputer lainnya, seperti virus. Daftar layanan inti umum akan terus bertambah.


Program saling berkomunikasi antara satu dengan lainnya dengan Antarmuka Pemrograman Aplikasi, Application Programming Interface atau disingkat dengan API. Dengan API inilah program aplikasi dapat berkomunikasi dengan Sistem Operasi. Sebagaimana manusia berkomunikasi dengan komputer melalui Antarmuka User, program juga berkomunikasi dengan program lainnya melalui API.


Walaupun demikian API sebuah komputer tidaklah berpengaruh sepenuhnya pada program-program yang dijalankan diatas platform operasi tersebut. Contohnya bila program yang dibuat untuk windows 3.1 bila dijalankan pada windows 95 dan generasi setelahnya akan terlihat perbedaan yang mencolok antara window program tersebut dengan program yang lain.

Sistem Operasi saat ini

Sistem operasi-sistem operasi utama yang digunakan komputer sistem umum (termasuk PC, komputer personal) terbagi menjadi 3 kelompok besar:

1. Keluarga Microsoft Windows – yang antara lain terdiri dari Windows Desktop Environment (versi 1.x hingga versi 3.x), Windows 9x (Windows 95, 98, dan Windows ME), dan Windows NT (Windows NT 3.x, Windows NT 4.0, Windows 2000, Windows XP, Windows Server 2003, Windows Vista, Windows 7 (Seven) yang akan dirilis pada tahun 2009, dan Windows Orient yang akan dirilis pada tahun 2014)).

2. Keluarga Unix yang menggunakan antarmuka sistem operasi POSIX, seperti SCO UNIX, keluarga BSD (Berkeley Software Distribution), GNU/Linux, MacOS/X (berbasis kernel BSD yang dimodifikasi, dan dikenal dengan nama Darwin) dan GNU/Hurd.

3. Mac OS, adalah sistem operasi untuk komputer keluaran Apple yang biasa disebut Mac atau Macintosh. Sistem operasi yang terbaru adalah Mac OS X versi 10.4 (Tiger). Awal tahun 2007 direncanakan peluncuran versi 10.5 (Leopard).

Sedangkan komputer Mainframe, dan Super komputer menggunakan banyak sekali sistem operasi yang berbeda-beda, umumnya merupakan turunan dari sistem operasi UNIX yang dikembangkan oleh vendor seperti IBM AIX, HP/UX, dll.

Proses

Prosesor mengeksekusi program-program komputer. Prosesor adalah sebuah chip dalam sistem komputer yang menjalankan instruksi-instruksi program komputer. Dalam setiap detiknya prosesor dapat menjalankan jutaan instruksi.

Program adalah sederetan instruksi yang diberikan kepada suatu komputer. Sedangkan proses adalah suatu bagian dari program yang berada pada status tertentu dalam rangkaian eksekusinya. Di dalam bahasan Sistem Operasi, kita lebih sering membahas proses dibandingkan dengan program. Pada Sistem Operasi modern, pada satu saat tidak seluruh program dimuat dalam memori, tetapi hanya satu bagian saja dari program tersebut. Sedangkan bagian lain dari program tersebut tetap beristirahat di media penyimpan disk. Hanya pada saat dibutuhkan saja, bagian dari program tersebut dimuat di memory dan dieksekusi oleh prosesor. Hal ini sangat menghemat pemakaian memori.

Beberapa sistem hanya menjalankan satu proses tunggal dalam satu waktu, sedangkan yang lainnya menjalankan multi-proses dalam satu waktu. Padahal sebagian besar sistem komputer hanya memiliki satu prosesor, dan sebuah prosesor hanya dapat menjalankan satu instruksi dalam satu waktu. Maka bagaimana sebuah sistem prosesor tunggal dapat menjalankan multi-proses? Sesungguhnya pada granularity yang sangat kecil, prosesor hanya menjalankan satu proses dalam satu waktu, kemudian secara cepat ia berpindah menjalankan proses lainnya, dan seterusnya. Sehingga bagi penglihatan dan perasaan pengguna manusia, seakan-akan prosesor menjalankan beberapa proses secara bersamaan.

Setiap proses dalam sebuah sistem operasi mendapatkan sebuah PCB (Process Control Block) yang memuat informasi tentang proses tersebut, yaitu: sebuah tanda pengenal proses (Process ID) yang unik dan menjadi nomor identitas, status proses, prioritas eksekusi proses dan informasi lokasi proses dalam memori. Prioritas proses merupakan suatu nilai atau besaran yang menunjukkan seberapa sering proses harus dijalankan oleh prosesor. Proses yang memiliki prioritas lebih tinggi, akan dijalankan lebih sering atau dieksekusi lebih dulu dibandingkan dengan proses yang berprioritas lebih rendah. Suatu sistem operasi dapat saja menentukan semua proses dengan prioritas yang sama, sehingga setiap proses memiliki kesempatan yang sama. Suatu sistem operasi dapat juga merubah nilai prioritas proses tertentu, agar proses tersebut akan dapat memiliki kesempatan lebih besar pada eksekusi berikutnya (misalnya: pada proses yang sudah sangat terlalu lama menunggu eksekusi, sistem operasi menaikkan nilai prioritasnya).

Status Proses

Jenis status yang mungkin dapat disematkan pada suatu proses pada setiap sistem operasi dapat berbeda-beda. Tetapi paling tidak ada 3 macam status yang umum, yaitu:

1. Ready, yaitu status dimana proses siap untuk dieksekusi pada giliran berikutnya

2. Running, yaitu status dimana saat ini proses sedang dieksekusi oleh prosesor

3. Blocked, yaitu status dimana proses tidak dapat dijalankan pada saat prosesor siap/bebas

Proses

Prosesor mengeksekusi program-program komputer. Prosesor adalah sebuah chip dalam sistem komputer yang menjalankan instruksi-instruksi program komputer. Dalam setiap detiknya prosesor dapat menjalankan jutaan instruksi.

Program adalah sederetan instruksi yang diberikan kepada suatu komputer. Sedangkan proses adalah suatu bagian dari program yang berada pada status tertentu dalam rangkaian eksekusinya. Di dalam bahasan Sistem Operasi, kita lebih sering membahas proses dibandingkan dengan program. Pada Sistem Operasi modern, pada satu saat tidak seluruh program dimuat dalam memori, tetapi hanya satu bagian saja dari program tersebut. Sedangkan bagian lain dari program tersebut tetap beristirahat di media penyimpan disk. Hanya pada saat dibutuhkan saja, bagian dari program tersebut dimuat di memory dan dieksekusi oleh prosesor. Hal ini sangat menghemat pemakaian memori.

Beberapa sistem hanya menjalankan satu proses tunggal dalam satu waktu, sedangkan yang lainnya menjalankan multi-proses dalam satu waktu. Padahal sebagian besar sistem komputer hanya memiliki satu prosesor, dan sebuah prosesor hanya dapat menjalankan satu instruksi dalam satu waktu. Maka bagaimana sebuah sistem prosesor tunggal dapat menjalankan multi-proses? Sesungguhnya pada granularity yang sangat kecil, prosesor hanya menjalankan satu proses dalam satu waktu, kemudian secara cepat ia berpindah menjalankan proses lainnya, dan seterusnya. Sehingga bagi penglihatan dan perasaan pengguna manusia, seakan-akan prosesor menjalankan beberapa proses secara bersamaan.

Setiap proses dalam sebuah sistem operasi mendapatkan sebuah PCB (Process Control Block) yang memuat informasi tentang proses tersebut, yaitu: sebuah tanda pengenal proses (Process ID) yang unik dan menjadi nomor identitas, status proses, prioritas eksekusi proses dan informasi lokasi proses dalam memori. Prioritas proses merupakan suatu nilai atau besaran yang menunjukkan seberapa sering proses harus dijalankan oleh prosesor. Proses yang memiliki prioritas lebih tinggi, akan dijalankan lebih sering atau dieksekusi lebih dulu dibandingkan dengan proses yang berprioritas lebih rendah. Suatu sistem operasi dapat saja menentukan semua proses dengan prioritas yang sama, sehingga setiap proses memiliki kesempatan yang sama. Suatu sistem operasi dapat juga merubah nilai prioritas proses tertentu, agar proses tersebut akan dapat memiliki kesempatan lebih besar pada eksekusi berikutnya (misalnya: pada proses yang sudah sangat terlalu lama menunggu eksekusi, sistem operasi menaikkan nilai prioritasnya).

Status Proses

Jenis status yang mungkin dapat disematkan pada suatu proses pada setiap sistem operasi dapat berbeda-beda. Tetapi paling tidak ada 3 macam status yang umum, yaitu:

  1. Ready, yaitu status dimana proses siap untuk dieksekusi pada giliran berikutnya
  2. Running, yaitu status dimana saat ini proses sedang dieksekusi oleh prosesor
  3. Blocked, yaitu status dimana proses tidak dapat dijalankan pada saat prosesor siap/bebas

Sejarah Postulat Einstein

Albert Einstein: Bagaimana Saya Membangun Teori Relativitas

Pengantar:

Siapa yang tidak kenal formula Einstein E = mc2 atau paradoks si kembar yang mendapati saudara kembarnya sudah jauh lebih tua setelah ia melakukan perjalanan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya? Namun tidak semua orang tahu kalau “keajaiban” tersebut hanyalah bagian kecil dari teori relativitas Einstein, serta bagaimana sebenarnya Einstein mendapatkan teori relativitas tersebut.

Pada tanggal 14 Desember 1922 Albert Einstein menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University tentang ide-ide yang melatar-belakangi lahirnya teori relativitas khusus dan umum. Kuliah ini merupakan bagian dari lawatan Einstein ke Jepang selama 43 hari di penghujung tahun 1922 bersama istrinya Elsa. Lawatan ini cukup unik, karena inilah satu-satunya lawatan Eistein ke Asia. Selama kunjungan tersebut, Einstein memiliki jadwal yang sangat ketat, ia harus memberikan kuliah untuk para profesional (fisikawan) serta publik umum.

Tahun berikutnya, catatan kuliah ini diterbitkan oleh sebuah majalah bulanan Jepang yang bernama Kaizo. Prof. Masahiro Morikawa dari Ochanomizu University menerjemahkan artikel tersebut ke dalam bahasa Inggris dalam buletin Asosiasi Himpunan Fisikawan Asia Pasifik yang terbit bulan April lalu. Seperti keyakinan Prof. Morikawa, saya pun sependapat bahwa artikel ini selayaknya diketahui masyarakat. Satu hal penting yang dapat kita pelajari dari kuliah ini adalah fakta bahwa sebagai manusia biasa Einstein pernah hampir putus-asa karena sulitnya problem relativitas. Namun kombinasi antara ketekunan, kerja keras, kejeniusan, hubungan baik dengan sesama ilmuwan, serta keberuntungan yang ia miliki, merupakan faktor yang akhirnya menentukan keberhasilan Einstein melahirkan kedua teori relativitas tersebut. Hal ini tentu saja patut menjadi renungan bagi para ilmuwan di republik ini.

Berikut adalah terjemahan pidato Einstein tersebut.

Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menceritakan secara lengkap bagaimana saya mendapatkan teori relativitas. Hal ini disebabkan oleh adanya beragam kompleksitas yang secara tidak langsung memotivasi pemikiran manusia. Saya pun tidak ingin menyampaikan secara rinci perkembangan pemikiran saya berdasarkan makalah-makalah ilmiah saya, namun saya akan secara sederhana menyampaikan pada anda esensi perkembangan pemikiran tersebut.

Pertamakali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas sekitar 17 tahun lalu (1905). Saya tidak dapat mengatakan secara eksak darimana ide semacam ini muncul, namun saya yakin ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak. Cahaya merambat dalam lautan ether dan bumi bergerak dalam ether yang sama. Oleh karena itu gerakan ether haruslah dapat diamati dari bumi. Namun saya tidak pernah menemukan satu bukti pengamatan aliran ether tersebut di dalam literatur fisika. Saya sangat terdorong untuk membuktikan aliran ether relatif terhadap bumi, dengan kata lain gerakan bumi di dalam ether. Pada saat itu saya sama sekali tidak meragukan eksistensi ether serta gerakkan ether tersebut. Sebenarnya saya mengharapkan kemungkinan pengamatan pada perbedaan antara kecepatan cahaya yang bergerak searah dengan gerakan bumi dan cahaya yang bergerak berlawanan (dengan bantuan pantulan cermin). Ide saya dapat direalisasi dengan menggunakan sepasang termokopel untuk mengukur perbedaan panas atau energi mereka. Ide ini mirip dengan eksperimen interferensi Albert Michelson, namun saat itu saya tidak begitu familiar dengan eksperimen Michelson. Saya berkenalan dengan hasil-nihil (null-result) eksperimen Michelson saat saya masih mahasiswa dan sejak saat itu saya sangat terobsesi dengan ide saya. Secara intuisi saya merasakan bahwa jika kita menerima hasil-nihil tersebut maka ia akan mengantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa pandangan kita tentang bumi yang bergerak di dalam ether adalah salah. Ini adalah langkah pertama yang menarik saya ke arah teori relativitas khusus. Sejak saat itu saya mulai yakin bahwa jika bumi bergerak mengelilingi matahari maka gerakannya tidak pernah dapat dideteksi dengan eksperimen yang menggunakan cahaya.

Pada tahun 1895 saya membaca makalah Hendrik Lorentz yang mengklaim bahwa ia dapat memecahkan problem elektrodinamika seutuhnya melalui pendekatan pertama, yaitu suatu pendekatan dimana pangkat dua atau lebih dari rasio antara kecepatan benda dan kecepatan cahaya diabaikan. Setelah itu saya mencoba mengembangkan argumen Lorentz pada hasil eksperimen Armand Fizeau dengan mengasumsikan bahwa persamaan gerak elektron, sebagaimana telah dibuktikan Lorentz, berlaku dalam sistem koordinat baik yang mengacu pada benda bergerak maupun pada vakuum. Saya yakin dengan keabsahan elektrodinamika yang disusun oleh Maxwell dan Lorentz dan saya sangat yakin bahwa mereka dengan tepat menjelaskan fenomena alam yang sebenarnya. Lebih-lebih pada fakta bahwa persamaan yang sama berlaku dalam sistem koordinat bergerak serta sistem vakuum, jelas memperlihatkan sifat invarian (tidak berubah) cahaya. Walau demikian, kesimpulan ini bertentangan dengan hukum komposisi kecepatan yang dianut saat itu. Mengapa kedua hukum dasar ini bertentangan satu sama lain? Masalah besar ini membuat saya berfikir keras. Saya harus menghabiskan setahun penuh dengan sia-sia dalam mengeksplorasi kesempatan memodifikasi teori Lorentz. Masalah ini terlihat terlalu berat untuk saya!

Suatu hari, sebuah percakapan dengan teman saya di Bern membantu saya memecahkan masalah besar ini. Saya mengunjunginya pada hari yang cerah dan bertanya padanya: “Saat ini saya sedang dihadapkan pada masalah besar yang saya kira tidak pernah dapat diselesaikan. Sekarang saya ingin membagi masalah ini dengan anda.” Saya menghabiskan pelbagai diskusi dengannya. Tiba-tiba saya mendapatkan ide yang sangat penting. Esoknya saya katakan kepadanya : “Terimakasih banyak. Saya telah memecahkan seluruh masalah saya.”

Ide utama saya untuk pemecahan masalah ini berkenaan dengan konsep waktu. Waktu tidak boleh didefinisikan a priori sebagai suatu realitas absolut. Waktu haruslah bergantung pada kecepatan sinyal. Masalah besar ini dapat diselesaikan dengan konsep baru tentang waktu.

Hanya dalam lima minggu saya dapat menyelesaikan prinsip relativitas khusus setelah penemuan tersebut. Saya juga tidak memiliki keraguan akan keabsahan prinsip ini dari sisi filosopis. Lagipula prinsip ini sesuai dengan prinsip Mach, paling tidak sebagian jika dibandingkan dengan kesuksesan teori relativitas umum. Inilah cara saya membangun teori relativitas khusus.

Langkah pertama menuju teori relativitas umum muncul dua tahun kemudian (1907) dengan cara yang berbeda.

Saya tidak terlalu puas dengan teori relativitas khusus karena prinsip relativitas hanya terbatas pada gerak relatif dengan kecepatan konstan namun tidak dapat diaplikasikan pada gerak secara umum. Pada tahun 1907 saya diminta oleh Johannes Stark untuk menulis ulasan tentang pelbagai hasil eksperimen dari teori relativitas khusus dalam laporan tahunannya Jahrbuch der Radioaktivitaet und Elektronik. Ketika diminta untuk menulis artikel ini saya sadar bahwa teori relativitas khusus dapat diterapkan pada semua fenomena alam kecuali gravitasi. Saya benar-benar ingin mencari jalan untuk menerapkan teori ini pada kasus gravitasi. Namun saya tidak dapat menyelesaikan hal ini dengan mudah. Satu hal yang membuat saya frustrasi adalah fakta bahwa meski teori relativitas khusus memberikan relasi yang sempurna antara kelembaman dan energi, sementara relasi antara kelembaman dan berat (inersia dan sistem gravitasi) tidak tersentuh sama sekali. Saya curiga bahwa masalah ini berada jauh di luar cakupan teori relativitas khusus.

Suatu hari saya sedang duduk di atas sebuah kursi di Kantor Paten Swiss di Bern. Inilah saatnya sebuah ide cemerlang melintas di benak saya. “Seseorang yang jatuh bebas tidak akan mengetahui berat badannya.” Ide sederhana ini memberi saya pemikiran yang mendalam. Emosi liar yang melanda saya saat itu mendorong saya ke arah teori gravitasi. Saya kembali berfikir, “Seseorang yang jatuh bebas memiliki percepatan.” Pengamatan yang dilakukan oleh orang ini sebenarnya dilakukan pada sistem yang dipercepat. Saya memutuskan untuk memperluas prinsip relativitas dengan memasukkan percepatan. Saya juga berharap, dengan menggeneralisasi teori ini saya akan sekaligus memecahkan masalah gravitasi. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa orang yang jatuh bebas tidak merasakan berat badannya akibat adanya medan gravitasi lain yang menghilangkan medan gravitasi bumi. Dengan kata lain, setiap benda yang dipercepat membutuhkan medan gravitasi baru.

Meski demikian saya tidak dapat memecahkan masalah ini secara utuh. Delapan tahun saya habiskan untuk menurunkan relasi yang nyata. Sebelum itu, saya hanya mendapatkan potongan-potongan dasar teori tersebut.

Ernst Mach juga mengklaim prinsip ekivalensi antar sistem-sistem yang dipercepat. Namun jelas hal ini tidak cocok dengan geometri biasa. Hal ini disebabkan karena jika sistem-sitem semacam ini diizinkan, maka geometri Euclidean tidak berlaku di setiap sistem. Menjelaskan hukum fisika tanpa geometri sama saja dengan menjelaskan suatu pemikiran tanpa kata-kata. Kita harus mempersiapkan kata-kata tersebut sebelum kita dapat menjelaskan pemikiran kita. Jadi, apa yang harus saya letakkan sebagai landasan teori saya?

Masalah ini tetap tak terselesaikan hingga tahun 1912. Pada tahun itu saya menyadari bahwa teori permukaan Karl Friedrich Gauss dapat menjadi dasar yang baik untuk memecahkan misteri di atas. Bagi saya, koordinat permukaan Gauss merupakan peralatan yang sangat penting. Namun saya tidak mengetahui bahwa George Riemann sebelumnya telah mengembangkan dasar-dasar geometri yang sangat mendalam. Saya hanya ingat teori Gauss yang saya dapat dalam kuliah dari seorang dosen matematika bernama Carl Friedrich Geiser ketika saya masih mahasiswa. Jadi saya semakin yakin bahwa sifat-sifat dasar dari geometri haruslah memiliki arti fisis.

Sekembalinya saya ke Zurich dari Praha saya menemui teman dekat saya, seorang ahli matematika, Marcel Grossmann. Ia membantu saya mencarikan referensi-referensi matematika yang agak asing bagi saya ketika saya masih di kantor paten Swiss di Bern. Inilah untuk pertamakali saya belajar darinya hasil karya Curbastro Ricci serta makalah-makalah Riemann. Saya tanyakan kepadanya apakah masalah saya dapat diselesaikan dengan teori Riemann, yaitu apakah invarian dari elemen garis cukup untuk menentukan seluruh koefisien yang saya cari. Selanjutnya, saya berkolaborasi dengannya dalam menulis sebuah makalah pada tahun 1913, meski persamaan gravitasi yang sesungguhnya belum dapat diturunkan saat itu. Penyelidikan lebih lanjut dengan menggunakan teori Riemann, sayangnya, menghasilkan banyak kesimpulan yang bertentangan dengan harapan saya.

Dua tahun berikutnya berlalu saat saya masih memutar otak untuk memecahkan masalah ini. Pada akhirnya saya menemukan satu kesalahan pada perhitungan saya sebelumnya. Saya kembali mencoba menurunkan persamaan gravitasi yang benar berdasarkan teori invarian. Setelah dua minggu bekerja, jawaban akhir muncul di depan saya.

Setelah tahun 1915 saya mulai mengerjakan problem kosmologi. Riset yang saya lakukan menyangkut geometri dan waktu jagad raya. Riset ini didasarkan pada pembahasan syarat batas teori relativitas umum dan argumen kelembaman Mach. Meski saya tidak mengetahui sejauh mana dampak ide Mach pada substansi relativitas umum dari kelembaman, saya yakin bahwa pemikiran besar ini merupakan filosopi dasar saya.

Mula-mula saya mencoba membuat syarat batas persamaan gravitasi menjadi invarian. Belakangan saya bahkan dapat menghilangkan batasan ini dengan asumsi bahwa jagad raya bersifat tertutup. Dengan demikian saya berhasil memecahkan masalah kosmologi. Sebagai hasilnya diperoleh bahwa kelembaman muncul sebagai satu sifat relatif di antara materi dan haruslah lenyap jika tidak ada benda lain yang berinteraksi dengannya. Saya yakin jika sifat penting ini membuat teori relativitas umum memuaskan kita bahkan dalam pandangan epistemologi sekalipun.

Dengan ini saya ingin mengakhiri cerita singkat saya tentang bagaimana saya membangun teori relativitas. Terimakasih banyak.Siapa yang tidak kenal formula Einstein E = mc2 atau paradoks si kembar yang mendapati saudara kembarnya sudah jauh lebih tua setelah ia melakukan perjalanan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya? Namun tidak semua orang tahu kalau “keajaiban” tersebut hanyalah bagian kecil dari teori relativitas Einstein, serta bagaimana sebenarnya Einstein mendapatkan teori relativitas tersebut.


Pada tanggal 14 Desember 1922 Albert Einstein menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University tentang ide-ide yang melatar-belakangi lahirnya teori relativitas khusus dan umum. Kuliah ini merupakan bagian dari lawatan Einstein ke Jepang selama 43 hari di penghujung tahun 1922 bersama istrinya Elsa. Lawatan ini cukup unik, karena inilah satu-satunya lawatan Eistein ke Asia. Selama kunjungan tersebut, Einstein memiliki jadwal yang sangat ketat, ia harus memberikan kuliah untuk para profesional (fisikawan) serta publik umum.

Tahun berikutnya, catatan kuliah ini diterbitkan oleh sebuah majalah bulanan Jepang yang bernama Kaizo. Prof. Masahiro Morikawa dari Ochanomizu University menerjemahkan artikel tersebut ke dalam bahasa Inggris dalam buletin Asosiasi Himpunan Fisikawan Asia Pasifik yang terbit bulan April lalu. Seperti keyakinan Prof. Morikawa, saya pun sependapat bahwa artikel ini selayaknya diketahui masyarakat. Satu hal penting yang dapat kita pelajari dari kuliah ini adalah fakta bahwa sebagai manusia biasa Einstein pernah hampir putus-asa karena sulitnya problem relativitas. Namun kombinasi antara ketekunan, kerja keras, kejeniusan, hubungan baik dengan sesama ilmuwan, serta keberuntungan yang ia miliki, merupakan faktor yang akhirnya menentukan keberhasilan Einstein melahirkan kedua teori relativitas tersebut. Hal ini tentu saja patut menjadi renungan bagi para ilmuwan di republik ini.

Berikut adalah terjemahan pidato Einstein tersebut.

Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menceritakan secara lengkap bagaimana saya mendapatkan teori relativitas. Hal ini disebabkan oleh adanya beragam kompleksitas yang secara tidak langsung memotivasi pemikiran manusia. Saya pun tidak ingin menyampaikan secara rinci perkembangan pemikiran saya berdasarkan makalah-makalah ilmiah saya, namun saya akan secara sederhana menyampaikan pada anda esensi perkembangan pemikiran tersebut.

Pertamakali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas sekitar 17 tahun lalu (1905). Saya tidak dapat mengatakan secara eksak darimana ide semacam ini muncul, namun saya yakin ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak. Cahaya merambat dalam lautan ether dan bumi bergerak dalam ether yang sama. Oleh karena itu gerakan ether haruslah dapat diamati dari bumi. Namun saya tidak pernah menemukan satu bukti pengamatan aliran ether tersebut di dalam literatur fisika. Saya sangat terdorong untuk membuktikan aliran ether relatif terhadap bumi, dengan kata lain gerakan bumi di dalam ether. Pada saat itu saya sama sekali tidak meragukan eksistensi ether serta gerakkan ether tersebut. Sebenarnya saya mengharapkan kemungkinan pengamatan pada perbedaan antara kecepatan cahaya yang bergerak searah dengan gerakan bumi dan cahaya yang bergerak berlawanan (dengan bantuan pantulan cermin). Ide saya dapat direalisasi dengan menggunakan sepasang termokopel untuk mengukur perbedaan panas atau energi mereka. Ide ini mirip dengan eksperimen interferensi Albert Michelson, namun saat itu saya tidak begitu familiar dengan eksperimen Michelson. Saya berkenalan dengan hasil-nihil (null-result) eksperimen Michelson saat saya masih mahasiswa dan sejak saat itu saya sangat terobsesi dengan ide saya. Secara intuisi saya merasakan bahwa jika kita menerima hasil-nihil tersebut maka ia akan mengantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa pandangan kita tentang bumi yang bergerak di dalam ether adalah salah. Ini adalah langkah pertama yang menarik saya ke arah teori relativitas khusus. Sejak saat itu saya mulai yakin bahwa jika bumi bergerak mengelilingi matahari maka gerakannya tidak pernah dapat dideteksi dengan eksperimen yang menggunakan cahaya.

Pada tahun 1895 saya membaca makalah Hendrik Lorentz yang mengklaim bahwa ia dapat memecahkan problem elektrodinamika seutuhnya melalui pendekatan pertama, yaitu suatu pendekatan dimana pangkat dua atau lebih dari rasio antara kecepatan benda dan kecepatan cahaya diabaikan. Setelah itu saya mencoba mengembangkan argumen Lorentz pada hasil eksperimen Armand Fizeau dengan mengasumsikan bahwa persamaan gerak elektron, sebagaimana telah dibuktikan Lorentz, berlaku dalam sistem koordinat baik yang mengacu pada benda bergerak maupun pada vakuum. Saya yakin dengan keabsahan elektrodinamika yang disusun oleh Maxwell dan Lorentz dan saya sangat yakin bahwa mereka dengan tepat menjelaskan fenomena alam yang sebenarnya. Lebih-lebih pada fakta bahwa persamaan yang sama berlaku dalam sistem koordinat bergerak serta sistem vakuum, jelas memperlihatkan sifat invarian (tidak berubah) cahaya. Walau demikian, kesimpulan ini bertentangan dengan hukum komposisi kecepatan yang dianut saat itu. Mengapa kedua hukum dasar ini bertentangan satu sama lain? Masalah besar ini membuat saya berfikir keras. Saya harus menghabiskan setahun penuh dengan sia-sia dalam mengeksplorasi kesempatan memodifikasi teori Lorentz. Masalah ini terlihat terlalu berat untuk saya!

Suatu hari, sebuah percakapan dengan teman saya di Bern membantu saya memecahkan masalah besar ini. Saya mengunjunginya pada hari yang cerah dan bertanya padanya: “Saat ini saya sedang dihadapkan pada masalah besar yang saya kira tidak pernah dapat diselesaikan. Sekarang saya ingin membagi masalah ini dengan anda.” Saya menghabiskan pelbagai diskusi dengannya. Tiba-tiba saya mendapatkan ide yang sangat penting. Esoknya saya katakan kepadanya : “Terimakasih banyak. Saya telah memecahkan seluruh masalah saya.”

Ide utama saya untuk pemecahan masalah ini berkenaan dengan konsep waktu. Waktu tidak boleh didefinisikan a priori sebagai suatu realitas absolut. Waktu haruslah bergantung pada kecepatan sinyal. Masalah besar ini dapat diselesaikan dengan konsep baru tentang waktu.

Hanya dalam lima minggu saya dapat menyelesaikan prinsip relativitas khusus setelah penemuan tersebut. Saya juga tidak memiliki keraguan akan keabsahan prinsip ini dari sisi filosopis. Lagipula prinsip ini sesuai dengan prinsip Mach, paling tidak sebagian jika dibandingkan dengan kesuksesan teori relativitas umum. Inilah cara saya membangun teori relativitas khusus.

Langkah pertama menuju teori relativitas umum muncul dua tahun kemudian (1907) dengan cara yang berbeda.

Saya tidak terlalu puas dengan teori relativitas khusus karena prinsip relativitas hanya terbatas pada gerak relatif dengan kecepatan konstan namun tidak dapat diaplikasikan pada gerak secara umum. Pada tahun 1907 saya diminta oleh Johannes Stark untuk menulis ulasan tentang pelbagai hasil eksperimen dari teori relativitas khusus dalam laporan tahunannya Jahrbuch der Radioaktivitaet und Elektronik. Ketika diminta untuk menulis artikel ini saya sadar bahwa teori relativitas khusus dapat diterapkan pada semua fenomena alam kecuali gravitasi. Saya benar-benar ingin mencari jalan untuk menerapkan teori ini pada kasus gravitasi. Namun saya tidak dapat menyelesaikan hal ini dengan mudah. Satu hal yang membuat saya frustrasi adalah fakta bahwa meski teori relativitas khusus memberikan relasi yang sempurna antara kelembaman dan energi, sementara relasi antara kelembaman dan berat (inersia dan sistem gravitasi) tidak tersentuh sama sekali. Saya curiga bahwa masalah ini berada jauh di luar cakupan teori relativitas khusus.

Suatu hari saya sedang duduk di atas sebuah kursi di Kantor Paten Swiss di Bern. Inilah saatnya sebuah ide cemerlang melintas di benak saya. “Seseorang yang jatuh bebas tidak akan mengetahui berat badannya.” Ide sederhana ini memberi saya pemikiran yang mendalam. Emosi liar yang melanda saya saat itu mendorong saya ke arah teori gravitasi. Saya kembali berfikir, “Seseorang yang jatuh bebas memiliki percepatan.” Pengamatan yang dilakukan oleh orang ini sebenarnya dilakukan pada sistem yang dipercepat. Saya memutuskan untuk memperluas prinsip relativitas dengan memasukkan percepatan. Saya juga berharap, dengan menggeneralisasi teori ini saya akan sekaligus memecahkan masalah gravitasi. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa orang yang jatuh bebas tidak merasakan berat badannya akibat adanya medan gravitasi lain yang menghilangkan medan gravitasi bumi. Dengan kata lain, setiap benda yang dipercepat membutuhkan medan gravitasi baru.

Meski demikian saya tidak dapat memecahkan masalah ini secara utuh. Delapan tahun saya habiskan untuk menurunkan relasi yang nyata. Sebelum itu, saya hanya mendapatkan potongan-potongan dasar teori tersebut.

Ernst Mach juga mengklaim prinsip ekivalensi antar sistem-sistem yang dipercepat. Namun jelas hal ini tidak cocok dengan geometri biasa. Hal ini disebabkan karena jika sistem-sitem semacam ini diizinkan, maka geometri Euclidean tidak berlaku di setiap sistem. Menjelaskan hukum fisika tanpa geometri sama saja dengan menjelaskan suatu pemikiran tanpa kata-kata. Kita harus mempersiapkan kata-kata tersebut sebelum kita dapat menjelaskan pemikiran kita. Jadi, apa yang harus saya letakkan sebagai landasan teori saya?

Masalah ini tetap tak terselesaikan hingga tahun 1912. Pada tahun itu saya menyadari bahwa teori permukaan Karl Friedrich Gauss dapat menjadi dasar yang baik untuk memecahkan misteri di atas. Bagi saya, koordinat permukaan Gauss merupakan peralatan yang sangat penting. Namun saya tidak mengetahui bahwa George Riemann sebelumnya telah mengembangkan dasar-dasar geometri yang sangat mendalam. Saya hanya ingat teori Gauss yang saya dapat dalam kuliah dari seorang dosen matematika bernama Carl Friedrich Geiser ketika saya masih mahasiswa. Jadi saya semakin yakin bahwa sifat-sifat dasar dari geometri haruslah memiliki arti fisis.

Sekembalinya saya ke Zurich dari Praha saya menemui teman dekat saya, seorang ahli matematika, Marcel Grossmann. Ia membantu saya mencarikan referensi-referensi matematika yang agak asing bagi saya ketika saya masih di kantor paten Swiss di Bern. Inilah untuk pertamakali saya belajar darinya hasil karya Curbastro Ricci serta makalah-makalah Riemann. Saya tanyakan kepadanya apakah masalah saya dapat diselesaikan dengan teori Riemann, yaitu apakah invarian dari elemen garis cukup untuk menentukan seluruh koefisien yang saya cari. Selanjutnya, saya berkolaborasi dengannya dalam menulis sebuah makalah pada tahun 1913, meski persamaan gravitasi yang sesungguhnya belum dapat diturunkan saat itu. Penyelidikan lebih lanjut dengan menggunakan teori Riemann, sayangnya, menghasilkan banyak kesimpulan yang bertentangan dengan harapan saya.

Dua tahun berikutnya berlalu saat saya masih memutar otak untuk memecahkan masalah ini. Pada akhirnya saya menemukan satu kesalahan pada perhitungan saya sebelumnya. Saya kembali mencoba menurunkan persamaan gravitasi yang benar berdasarkan teori invarian. Setelah dua minggu bekerja, jawaban akhir muncul di depan saya.

Setelah tahun 1915 saya mulai mengerjakan problem kosmologi. Riset yang saya lakukan menyangkut geometri dan waktu jagad raya. Riset ini didasarkan pada pembahasan syarat batas teori relativitas umum dan argumen kelembaman Mach. Meski saya tidak mengetahui sejauh mana dampak ide Mach pada substansi relativitas umum dari kelembaman, saya yakin bahwa pemikiran besar ini merupakan filosopi dasar saya.

Mula-mula saya mencoba membuat syarat batas persamaan gravitasi menjadi invarian. Belakangan saya bahkan dapat menghilangkan batasan ini dengan asumsi bahwa jagad raya bersifat tertutup. Dengan demikian saya berhasil memecahkan masalah kosmologi. Sebagai hasilnya diperoleh bahwa kelembaman muncul sebagai satu sifat relatif di antara materi dan haruslah lenyap jika tidak ada benda lain yang berinteraksi dengannya. Saya yakin jika sifat penting ini membuat teori relativitas umum memuaskan kita bahkan dalam pandangan epistemologi sekalipun.

Dengan ini saya ingin mengakhiri cerita singkat saya tentang bagaimana saya membangun teori relativitas. Terimakasih banyak.

(sumber: kaskus.com)

Teori Terjadinya Tata Surya

Alam semesta merupakan sesuatu yang amat besar tak terhingga, menurut hitungan manusia. Manjusia di bumi hanya bisa meyakininya dengan segenap penafsiran melalui hitungan dan perasaan saja. Diantara alam semesta itu terdapat Galaksi-galaksi yang besar. Galaksi itu merupakan sekumpulan bintang-bintang di jagad raya yang bisa berupa cakram yang tengahnya menebal ataupun berbentuk pipih dan juga bisa berbentuk sebuah bola. Jumlahnya pun bisa mencapai ribuan bahkan ratusan ribu bintang. Kumpulan bintang itu dari yang kecil-kecil sampai bintang raksasa, dimana pusat galaksi itu merupakan kumpulan bintang-bintang raksasa yang besarnya berurutan ke bintang yang lebih kecil seiring makin jauh dari pusat galaksi. Contoh Galaksi yang kita diami adalah galaksi berbentuk cakram dimana matahari ada di tengah-tengah antara pusat dan tepi, matahari kita termasuk golongan berukuran sedang. Galaksi kita sering dinamakan galaksi Bima sakti atau milky way, disebut demikian karena berbentuk kabut seperti susu. Galaksi itu berputar mengikuti pusatnya di tengah-tengah cakram dalam waktu yang sangat lama, sehingga di tengah-tengahnya bergerombol. Lihat gambar dibawah ini

Bila tadi kita bahas mengenai galaksi, maka sekarang kita lihat bahwa galaksi mempunyai bagian yang kecil yaitu sebuah bintang. Bintang adalah sebuah material raksasa yang mempunyai cahaya sendiri. Cahaya itu artinya keluar dari bintang sendiri, karena unsur bintang terdiri dari gas yang sangat panas dan besar sehingga volumenya mengembang. Karena panasnya itu maka warna bintang bisa berbeda-beda, makin panas bintang itu makin biru warnanya. Tingkatannya adalah merah, kuning, putih dan kebiru-biruan.Contoh bintang besar Antares yang berwarna merah, matahari kita berwarna kekuning-kuningan, sedangkan bintang yang paling panas ialah bintang Sirius pada rasi Canis Mayor dan berwarna kebiru-biruan..

Bintang bercahaya karena mengandung proses yang sangat dahsyat yaitu termonuklir. Perubahan secara fisika dari unsur Hidrogen menjadi Helium dalam suatu kapasitas yang sangat besar adanya. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya panas di dalam matahari, sehingga matahari materialnya berubah menjadi gas yang sangat mengembang dan ukurannya menjadi sangat besar. Akibat dari panas yang sangat tinggi mencapai 6000 0 Celcius di permukaannya dan pusatnya mencapai 35.000.000 0 Celcius, maka matahari bisa memancarkan sinarnya ke seluruh alam semesta, terutama ke sistem tata suryanya sendiri termasuk ke lingkungan planet bumi dan planet-planet serta satelit-satelit sekitarnya. Matahari merupakan sebuah dapur raksasa bagi sistem tata surya dilingkungannya yang terdiri atas planet-planet. Cahaya matahari bisa mencapai bumi yang jaraknya 149,6 juta kilometer dalam waktu yang singkat. Karena 1 detik cahaya mempunyai kecepatan kurang lebih 300.000 km.

Ada beberapa teori tentang terjadinya tata surya yang bisa kita kenal diantaranya teori Nebulae yang dikemukakan oleh Imanuel Kant dan Laplace. Beliau adalah seorang ahli filsafat jerman yang hidup pada tahun 1749 – 1827. Menurutnya bahwa di jagat raya terdapat banyak sekali kabut-kabut raksasa yang kemudian secara perlahan-lahan berputar membentuk gumpalan-gumpalan kabut-kabut raksasa. Gumpalan-gumpalan itu kemudian lama ke lamaan menjadi gumpalan gas yang menjadi matahari beserta planet-planetnya.

Pada masa yang bersamaan, seorang ahli fisika Perancis bernama Pierre Simon De Laplace, mengemukakan teori yang hampir sama. Dikatakannya bahwa tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin-pilin, sehingga membentuk gumpalan raksasa seperti bola. Makin cepat pilinannya makin kecil bola itu sehingga menjadi mampat dan melebar di bagian ekuatornya, sehingga terlepaslah sebagian dari gas itu dan menjadi gelang-gelang matahari. Gelang-gelang gas itu lama kelamaan membeku menjadi planet-planet dari matahari kita. Teori ini dinamakan dengan teori kabut atau Nebular hypothesis.

Disamping teori kabut, ada juga teori Planetesimal yang dikemukakan oleh T. Chamberlain (1843-1928) seorang ahli geologi dan F.R. Moulton (1872-1952) seorang ahli astronomi, keduanya ilmuwan dari Amerika Serikat. Teorinya berbunyi pada suatu masa datang ke dekat matahari sebuah bintang yang sangat besar, sehingga tertariklah sebagian matahari ke arah bintang itu. Pada saat menjauh bintang itu terlepaslah sebagian masa matahari itu dan tidak bisa mengejar bintang, sehingga jatuh kembali ke masa matahari dan berhamburanlah sebagian masa matahari keluar, sehingga menjadi planet-planet sampai sekarang.

Teori ini hampir sama dengan teori pasang surut yang dikemukakan oleh Sir James Jeans (1877) dan Harold Jefreys (1891) yang keduanya berasal dari Inggris. Menurut teori ini ke dekat Matahari datanglah sebuah bintang yang besar dimana keduanya terjadi saling tarik menarik, dan dari matahari yang kecil keluarlah sebagian masa gas itu dan mengejar masa bintang besar itu, tapi tidak terkejar karena cepatnya gerakannya, maka berceceranlah masa gas matahari itu dan membeku di angkasa, sehingga menjadi planet-planet dalam tata surya. Akibat ceceran itu garis bidang planet (inklinasi) hampir bersamaan. Planet itu dari yang terdekat yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Kosmologi: Teori Big Bang

Untuk memudahkan bagaimana alam semesta ini mengembang, tiuplah sebuah balon yang telah ditulisi dengan titik-titik yang tersebar merata di permukaannya. Apakah yang terjadi? Ya, balon tersebut mengembang dan titik-titik itu semakin menjauhi satu sama lain. Padahal titik-titik tersebut tidak bergerak. Apakah penyebabnya? Karena balon tersebut mengembang.

Sekarang, analogikanlah balon yang mengembang itu sebagai alam semesta yang mengembang dan titik-titik di permukaan balon tersebut sebagai galaksi-galaksi. Dari analogi ini kita dapat menyimpulkan, ketika alam semesta mengembang, jarak pisah setiap galaksi dengan galaksi lain akan semakin membesar. Inilah yang diamati Edwin P. Hubble, seorang astronom Amerika pada dekade 1920-an.

Selain itu, Hubble juga mendapati, semakin jauh jarak dua galaksi, laju menjauhnya pun semakin besar, dengan nilai yang sebanding dengan jaraknya. Inilah yang sekarang dikenal dengan nama hukum Hubble.

Dari hukum Hubble tersebut lahirlah suatu parameter yang menyatakan laju pengembangan alam semesta saat tertentu, yang disebut parameter Hubble. Nilainya pada saat tertentu itulah yang disebut konstanta Hubble, yang pada saat ini besarnya adalah sekira 72 km/det/Mpc. Arti nilai ini adalah dalam satu detik, akibat pengembangan alam semesta pertambahan jarak dua galaksi yang pada awalnya terpisah sejauh 1 Mpc adalah sekira 72 km. (1 Mpc adalah jarak yang ditempuh cahaya yang memiliki laju 300.000 km/det selama 3,26 juta tahun).

Dari konstanta Hubble ini, kita dapat mengetahui usia kosmik alam semesta saat ini, yaitu sekira 14 miliar tahun, dan radius alam semesta yang dapat diamati saat ini, yaitu sekira 4.100 Mpc. (Silakan bandingkan dengan usia manusia yang mungkin hanya 63 tahunan dan tingginya tidak jauh dari 2 meter).

Pada prinsipnya, konstanta Hubble merupakan perbandingan laju menjauh suatu objek dengan jaraknya dari pengamat. Laju menjauh suatu objek dapat diketahui dengan membandingkan letak spektrum yang mencirikan objek tersebut dari pengamatan dan letak spektrum itu di buku panduan. Sedangkan jaraknya dari pengamat dapat diketahui dengan banyak cara, yang mungkin namanya pun masih asing untuk kita. Misalnya bintang variabel cepheid (yang dahulu digunakan Hubble), efek lensa gravitasi, efek Sunyaev-Zeldovich, supernova tipe Ia jauh, dan relasi Tully-Fisher. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Satu hal yang pasti, hasil-hasil observasinya menginspirasikan, penyebab semakin menjauhnya objek-objek di langit adalah alam semesta saat ini memang sedang mengembang.

Namun, apakah alam semesta saat ini mengembang dengan laju konstan, diperlambat, ataukah dipercepat? Ternyata hasil observasi supernova tipe Ia jauh dan variasi temperatur CMBR menunjukkan, alam semesta ini mengembang dipercepat. Selain menyingkirkan anggapan diperlambatnya pengembangan alam semesta saat ini, hasil ini juga membuktikan, nilai parameter Hubble tidak tetap selamanya. Namun, hasil ini juga menimbulkan pertanyaan baru, apakah penyebab alam semesta sekarang mengembang dipercepat? Pertanyaan inilah yang sampai sekarang sedang dicoba jawab para ilmuwan.

1.1       Kelimpahan Unsur-unsur Ringan di Alam Semesta

Sebagaimana telah diuraikan, ketika alam semesta mengembang temperaturnya terus menurun (Menurut perhitungan kerapatan sebanding dengan temperatur pangkat empat. Karena itu, untuk selanjutnya cukup dibahas temperaturnya). Apakah konsekuensi hal ini? Dalam ‘The Early Universe’, E. W. Kolb dan M. S. Turner menguraikan, sebelum usia kosmik 0,01 detik setelah big bang, temperatur alam semesta lebih tinggi dari seratus miliar Kelvin. Apakah yang terjadi pada temperatur setinggi itu?

Marilah kita didihkan sejumlah air. Ketika temperaturnya naik dan mencapai titik didihnya, wujud air akan berubah menjadi uap air. Jika temperaturnya dinaikkan lagi hingga keadaan tertentu, uap air itu akan terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Lalu apakah yang terjadi jika temperaturnya terus dinaikkan lagi? Akan diperoleh suatu wujud zat baru, di mana para ilmuwan menyebutnya sebagai plasma.

Contoh plasma adalah pada matahari kita. Di dalam matahari, temperaturnya bisa lebih tinggi dari 5.000 K. Apapun yang berada pada temperatur tersebut akan berwujud plasma. Di sana atom-atom hidrogen bisa terurai menjadi inti atom dan elektron. Begitulah, penguraian inti atom menjadi partikel-partikel elementer akan terjadi jika temperatur terus dinaikkan lagi.

Nah, partikel-partikel elementer itulah yang ada ketika temperatur alam semesta lebih tinggi dari ratusan miliar Kelvin. Urutan yang terbalik, yaitu partikel-partikel elementer membentuk partikel-partikel yang lebih berat, akan terjadi ketika temperatur alam semesta terus menurun.

Menurut perhitungan yang sudah dibuktikan sejumlah eksperimen fisika, partikel-partikel yang mendominasi alam semesta saat usia kosmik sekira 0,01 detik setelah big bang adalah elektron, antipartikelnya yaitu positron, partikel cahaya yaitu foton, neutrino, antipartikelnya yaitu antineutrino, serta sejumlah kecil neutron dan proton. Mereka semua berada dalam temperatur yang sama (para ilmuwan biasa menyebutnya berada dalam kesetimbangan termal). Dalam keadaan ini, penghancuran dan pembentukan partikel-partikel tersebut atau yang menghasilkan partikel lain berlangsung seimbang.

Kemudian, ketika usia kosmik mencapai sekira 0,74 detik setelah big bang, temperatur alam semesta menurun menjadi sekira 10 miliar Kelvin. Saat itulah temperatur neutrino dan antineutrino mulai berbeda dengan partikel yang lain. Pada temperatur sekira itulah neutron meluruh menjadi proton dan partikel lain, sehingga jumlah proton menjadi lebih banyak daripada neutron dibandingkan sebelumnya.

Selanjutnya, temperatur alam semesta terus menurun hingga mencapai beberapa miliar Kelvin. Pada saat usia kosmik sekira 4,12 detik setelah big bang, reaksi elektron dan positron memperlambat penurunan temperatur alam semesta dan menyisakan sejumlah kecil elektron. Neutron pun terus meluruh menjadi proton. Selain itu pembentukan inti helium-4 dari neutron dan proton menjadi lebih banyak daripada penghancurannya.

Ada tiga contoh rantai reaksi pembentukan inti helium-4 ini. Pertama, neutron dan proton bereaksi membentuk deuterium. Selanjutnya deuterium ini bereaksi dengan deuterium membentuk tritium dan proton. Kemudian tritium bereaksi dengan deuterium untuk membentuk helium-4 dan neutron. Kedua, neutron dan proton bereaksi membentuk deuterium. Lalu deuterium bereaksi dengan deuterium membentuk helium-3 dan neutron. Lalu helium-3 bereaksi dengan deuterium menghasilkan helium-4 dan proton. Proton dan neutron yang dihasilkan pada kedua rantai reaksi ini dapat digunakan lagi pada reaksi lain. Ketiga, neutron dan proton bereaksi membentuk deuterium. Lalu deuterium bereaksi dengan deuterium membentuk helium-4 dan foton. Selain reaksi-reaksi tersebut ada juga reaksi-reaksi lain, misalnya yang mengakibatkan terbentuknya lithium-7.

Demikianlah gambaran sederhana peristiwa yang terjadi sampai sekira tiga menit pertama setelah big bang. Setelah tiga menit pertama itu, alam semesta didominasi foton, sejumlah kecil elektron dan inti atom unsur-unsur ringan, serta neutrino-antineutrino yang temperaturnya sudah berbeda. Peristiwa yang menghasilkan inti unsur-unsur ringan tersebut dikenal dengan nama big bang nucleosynthesis. Para pionir dalam bidang ini adalah Gamow, Alpher, dan Herman yang mempublikasikan prediksi mereka pada era 1940-an dan 1950-an. Kerja mereka ini dilanjutkan ilmuwan lain dengan perhitungan yang lebih mendetail.

Sampai sekarang, tingkat akurasi perhitungan tersebut sangat tinggi, dengan kemungkinan kesalahan sekira 1aja. Kelimpahan unsur-unsur ringan yang mereka perkirakan adalah dalam sepuluh miliar inti atom hidrogen, ada ratusan ribu deuterium, ratusan ribu helium-3, dan beberapa lithium-7 yang berasal dari big bang nucleosynthesis. Sedangkan untuk helium-4 adalah sekira 24 dari total materi biasa.

HTML (Hyper-Text Markup Language) 2

    Struktur Dasar Web Page

 
 

File-file HTML dapat ditampilkan sesuai dengan keinginan kita seperti pada contoh-contoh sebelumnya adalah karena terdapat marker yang diimplementasikan dalam bentuk tag-tag HTML. Secara umum format tag HTML tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:

<TAG>Teks yang akan dipengaruhi oleh tag</TAG>

Sebagai contoh kalau kita akan membuat tulisan dalam format tebal maka yang harus kita tuliskan dalam file HTML adalah:

B>Tulisan yang tercetak tebal</B>

Tanda slash (/) menunjukkan akhir dari suatu tag, akan tetapi ada juga beberapa tag HTML yang tidak memerlukan pasangan akhirannya ini.

Tag yang paling dasar yang digunakan dalam file HTML adalah <HTML> dan </HTML>. Kedua tag ini berfungsi untuk mendefinisikan bahwa teks yang terdapat di antara kedua tag tersebut adalah dalam format HTML.

      <HTML>

      Teks

      </HTML>

Untuk mendefinisikan head,  kita dapat menambahkan tag <HEAD> dan </HEAD> setelah penggunaan tag <HTML> sedemikian hingga struktur page menjadi :

      <HTML>

      <HEAD>

      </HEAD>

      </HTML>

Sedangkan bagian body adalah tempat dimana kita dapat menempatkan teks dan berbagai aksesori pendukung lainnya yang akan ditampilkan pada web page. Bagian ini dapat didefinisikan dengan meletakkan tag <BODY> dan </BODY> di antara teks yang akan kita tampilkan. Kedua tag ini diletakkan sesudah tag </HEAD>, sehingga struktur dasar sebuah page dapat dituliskan sebagai :

      <HTML>

      <HEAD>

      </HEAD>

      <BODY>

      </BODY>

      </HTML>

Untuk mendefinisikan judul page (title) maka kita dapat melakukannya dengan meletakkan naskah judul di antara tag <TITLE> dan </TITLE>.  Judul ini akan ditampilkan pada title bar web brower Misalkan kita akan membuat sebuah page dengan judul “Latihan HTML” maka kita harus menambahkan:

      <TITLE>Latihan HTML</TITLE>

Perhatikan bahwa tag <TITLE> dan </TITLE> ini harus diletakkan pada bagian head, sehingga dokumen HTML dasar kita menjadi:

      <HTML>

      <HEAD>

      <TITLE>Latihan HTML</TITLE>

      </HEAD>

      <BODY>

      Teks yang akan ditampilkan pada bagian body

</BODY>

      </HTML>

Pada file HTML, karakter carriage returns (Enter) diabaikan, sehingga untuk membuat atau mendefinisikan naskah dalam bentuk paragraf harus ditambahkan tag khusus yakni <P>. Sebagai contoh kita dapat menampilkan beberapa paragraf sekaligus dalam satu dokumen HTML.

<HTML>

<HEAD>

<TITLE>Latihan HTML</HTML>

</HEAD>

<BODY>

Teks yang akan ditampilkan pada bagian body

<P>Paragraf satu </P>

<P>Paragraf dua </P>

</BODY>

</HTML>

Format Teks Dasar

 

Pada umumnya web browser mendukung empat macam format teks yakni bold, italic, monospace, and underline. Keempat format teks ini diimplementasikan dalam format HTML dengan menambahkan tag-tag yang bersesuaian untuk masing-masing format tersebut.

Format teks

Tag awal

Tag Akhir

Bold

<B>

</B>

Italic

<I>

</I>

Underline

<U>

</U>

Monospace

<TT>

</TT>

 

Sebagai contoh kalau kita ingin menggunakan format-format teks ini maka dalam file HTML harus kita tambahkan:

     <HTML>

     <HEAD>

     <TITLE>Yer Basic Text Formatting Styles</TITLE>

     </HEAD>

     <BODY>

     <U>My Excellent Bookstore Adventure</U>

     <P>

     The other day, I went to a unique bookstore called

     <TT>Mary, Mary, Quite Contrary</TT>. There were

     <I>tons</I> of unexpected delights, including, believe

     it or not, a <B>Self-Helpless</B> section! For real.

     I saw titles like <I>Got a 50-Cent Head? Here’s How To

     Get a Ten Dollar Haircut!</I> and <I>A Few Geese Shy of

     a Gaggle-And Proud Of It!</I>

     </BODY>

     </HTML>

Kita juga dapat mengkombinasikan dua macam format teks secara bersamaan. Misalkan untuk menampilkan kata-kata dalam cetak tebal dan miring kita dapat menuliskan kode HTML seperti ini:

      <B><I>Kata-kata yang tercetak tebal dan miring</I></B>

Selain itu kita juga dapat menampilkan suatu karakter khusus dengan menggunakan kode yang tertentu pula. Ada dua macam kode yang dapat kita gunakan untuk menampilkan karakter-karakter alternatif tersebut yakni dengan menggunakan Character Reference atau Entity Name. Berikut ini terdapat daftar yang memuat beberapa karakter khusus yang dapat ditampilkan dengan menggunakan suatu kode tertentu.

Misalkan untuk menuliskan “Tag <HTML>” dapat kita implementasikan:

            Tag &lt;HTML&gt;

Symbol

Character Reference

Entity name

 <

<

&lt;

>

&gt;

¢

¢

&cent;

£

£

&pound;

¥

¥

&yen;

©

©

&copy;

®

®

&reg;

°

°

&deg;

&frac14;

¼

&frac14;

&frac12;

½

&frac12;

&frac34;

¾

&frac34;

&times;

×

&times;

                              Penggunaan Heading

Seperti halnya pada pembuatan buku, kita dapat membagi naskah atau dokumen HTML ke dalam beberapa seksi untuk memudahkan proses pembacaan. Masing-masing seksi atau bagian itu terdapat satu subjudul. Untuk menangani format tampilan yang seperti ini kita dapat menggunakan tag HTML yang khusus untuk kepentingan tersebut. Terdapat enam tag yang dapat digunakan untuk membentuk format heading yakni mulai dari <H1> yang menggunakan ukuran font paling besar hingga ke <H6> yang ukuran font-nya paling kecil.

Contoh penggunaannya dalam file HTML adalah sebagai berikut:

     <HTML>

     <HEAD>

     <TITLE>A Text Formatting and Headings    Extravaganza</TITLE>

     </HEAD>

     <BODY>

     <H1>From Buck-Naked to Beautiful: Dressing Up Your Page</H1>

     <H2>Sprucing Up Your Text</H2>

     <H3>Yer Basic Text Formatting Styles</H3>

     <H3>Combining Text Formats</H3>

     <H3>Accessorizing: Displaying Special Characters</H3>

     <H2>Sectioning Your Page With Headings</H2>

     <H2>A Few More Formatting Features</H2>

     <H3>Handling Preformatted Text</H3>

     <H3>Them’s the Breaks: Using &lt;BR&gt; for Line Breaks</H3>

     <H3>Inserting Horizontal Lines</H3>

     </BODY>

     </HTML>

Penanganan Preformat

Pada kondisi biasa web browser akan mengabaikan pemakaian karakter-karakter multi spasi, tab, dan carriage return, namun kita dapat mencegahnya dengan menggunakan tag <PRE>. Penggunaan tag <PRE> ini membuat web browser akan menampilkan dokumen dalam bentuk apa adanya (karakter multi spasi, tab dan carriage return tidak diabaikan).

Tag <PRE> merupakan kependekan dari “preformatted“, yang artinya naskah ditampilkan dalam bentuk layout yang asli. Pada contoh berikut ditampilkan perbedaan antara naskah dokumen yang menggunakan tag <PRE> dan naskah yang lain tidak menggunakannya. Layout asli kedua naskah tersebut dibuat serupa sehingga kita dapat melihat perbedaan dari hasil tampilannya.

 

     <HTML>

     <HEAD>

     <TITLE>The &lt;PRE&gt; Tag</TITLE>

     </HEAD>

     <BODY>

     <H3>Without the &lt;PRE&gt; Tag:</H3>

               Here’s

             some ditty

           Specially done

         to lay it out all

       Formatted and pretty.

     Unfortunately, that is all

       This junk really means

          Because I admit I

           couldn’t scrawl

             Poetry for

               beans.

     <P>

     <H3>With the &lt;PRE&gt; Tag:</H3>

     <PRE>

               Here’s

             some ditty

           Specially done

         to lay it out all

       Formatted and pretty.

     Unfortunately, that is all

       This junk really means

          Because I admit I

           couldn’t scrawl

             Poetry for

               beans.

     </PRE>

     </BODY>

     </HTML>

 

 

 

Catatan :

Pada penggunaan tag <PRE>, teks akan ditampilkan dengan menggunakan font dengan format monospace.

 

Penyisipan Garis dan Line Break

Penyisipan Garis

Untuk menambah nilai estetika page maupun untuk memisahkan suatu bagian informasi dari bagian yang lainnya, kita dapat menyisipkan sebuah garis horisontal pada page. Penyisipan garis ini dapat dilakukan dengan menambahkan tag <HR>. Tag <HR> ini juga memiliki beberapa parameter tambahan yang memungkinkan kita untuk memodifikasi tampilan dari garis horisontal yang digunakan ini.

Line Break

Pada pemaparan bagian sebelum ini telah dijelaskan bahwa tag <P> dapat digunakan untuk memisahkan suatu paragraf dengan paragraf yang berikutnya. Persoalan berikutnya bagaimana jika ingin menyisipkan  line break pada akhir baris agar jarak dengan baris berikutnya tidak terlalu jauh (kalau kita menggunakan tag <P> jarak antara kedua baris relatif lebih jauh). Tentu saja kita dapat melakukan dengan menggunakan tag <PRE> untuk menampilkan dokumen dalam bentuk preformat, akan tetapi hal ini kurang diminati karena font ditampilkan dalam format monospace. Untuk mengatasi hal itu kita dapat menggunakan tag <BR>. Tag <BR> ini akan menyisipkan line break pada akhir baris sehingga kita dapat pindah ke baris berikutnya tanpa harus berganti paragraf.

Pada contoh berikut akan ditampilkan pada page berupa penggunaan line break dan penyisipan sebuah garis horizontal.

 

     <HTML>

     <HEAD>

     <TITLE>Horizontal Rule and Line Break</TITLE>

     </HEAD>

     <BODY>

     <P><B>Using &lt;BR&gt;  to force a line break</B><BR>

     Hi Everybody ! <BR>

     My Name is Jhon <BR></P>

     <P><B>Using &lt;HR&gt;  to add a horizontal rule</B>

     <HR>

     </BODY>

     </HTML>

 

 

 

 

HTML (Hyper-Text Markup Language) 1

   Pengenalan HTML

 

HTML (HyperText Mark up Language) merupakan suatu metoda untuk mengimplementasikan konsep hypertext dalam suatu naskah atau dokumen. HTML sendiri bukan tergolong pada suatu bahasa pemrograman karena sifatnya yang hanya memberikan tanda (marking up) pada suatu naskah teks dan bukan sebagai program.

Berdasarkan kata-kata penyusunnya HTML dapat diartikan lebih dalam lagi menjadi :

Hypertext

Link hypertext adalah kata atau frase yang dapat menunjukkan hubungan suatu naskah dokumen dengan naskah-naskah lainnya. Jika kita klik pada kata atau frase untuk mengikuti link ini maka web browser akan memindahkan tampilan pada bagian lain dari naskah atau dokumen yang kita tuju.

Markup

Pada pengertiannya di sini markup menunjukkan bahwa pada file HTML berisi suatu intruksi tertentu yang dapat memberikan suatu format pada dokumen yang akan ditampilkan pada World Wide Web.

Language

Meski HTML sendiri bukan merupakan bahasa pemrograman, HTML merupakan kumpulan dari beberapa instruksi yang dapat digunakan untuk mengubah-ubah format suatu naskah atau dokumen.

Pada awalnya HTML dikembangkan sebagai subset  SGML (Standard Generalized Mark-up Language). Karena HTML didedikasikan untuk ditransmisikan melalui media Internet, maka HTML relatif lebih sederhana daripada SGML yang lebih ditekankan pada format dokumen yang berorientasi pada aplikasi.

Apa yang dapat dilakukan dengan HTML ?

·         Menentukan format suatu teks

·         Membuat list tentang sekelompok hal

·         Membuat link ke dokumen lain atau bagian lain dari dokumen yang sama

·         Menyisipkan citra atau gambar

·         Menampilkan informasi dalam bentuk tabel

 

Memodifikasi format teks

Penggunaan HTML memungkinkan kita untuk memodifikasi tampilan atau format dokumen yang akan kita transmisikan melalui media Internet. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menentukan format dokumen ini adalah :

n  Kita dapat menampilkan suatu kelompok kata dalam beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk judul, heading dan sebagainya.

n  Kita dapat menampilkan teks dalam bentuk cetakan tebal

n  Kita dapat menampilkan sekelompok kata dalam bentuk miring

n  Kita dapat menampilkan naskah dalam bentuk huruf yang mirip dengan  hasil ketikan mesin ketik

n  Kita dapat mengubah-ubah ukuran font untuk suatu karakter tertentu.

Menampilkan daftar sesuatu dalam bentuk point-point (item)

Dengan HTML kita dapat menampilkan daftar atau deretan informasi dalam bentuk point-point sehingga lebih mudah dibaca dan dipahami

Membuat link

Konsep hypertext pada HTML memungkinkan kita untuk membuat link pada suatu kelompok kata atau frase untuk menuju ke bagian manapun dalam World Wide Web. Ada tiga macam link yang dapat kita gunakan :

n  Link menuju bagian lain dari page

n  Link menuju page lain dalam satu web site

n  Link menuju resource atau web site yang berbeda

Menyisipkan citra

Dengan menyisipkan citra maka tampilan page kita akan lebih menarik, interaktif dan informatif untuk mendukung data-data lainnya dalam bentuk teks.

Menampilkan informasi dalam bentuk tabel

Penampilan informasi dalam bentuk tabel ini akan mempermudah pembaca untuk memahami informasi yang kita tawarkan. Penggunaan tabel ini juga dapat dilakukan untuk menambah nilai estetika dari page yang akan kita rancang.

Pertama…

Ya….

Tidak banyak yang dapat dikatakan saat ini.

Masih dalam pikiran… ^_^